• Kamis, 4 Juni 2026

Agung Suryamal Ungkap Strategi Pengusaha Hadapi Pelemahan Rupiah dan Tekanan Ekonomi Global Saat Ini

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Senin, 1 Juni 2026 | 22:02 WIB
Pengusaha Agung Suryamal, mengajak pelaku usaha memperkuat efisiensi, likuiditas, dan peluang ekspor untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global. (Dok. Sinerco.co.id/ Kreasi Dola AI)
Pengusaha Agung Suryamal, mengajak pelaku usaha memperkuat efisiensi, likuiditas, dan peluang ekspor untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global. (Dok. Sinerco.co.id/ Kreasi Dola AI)

THE BOTTOM LINE:

  • Agung Suryamal menilai pengusaha menghadapi tekanan biaya produksi, pelemahan rupiah, dan daya beli yang melemah.
  • Sektor manufaktur, perdagangan, tekstil, otomotif, hingga elektronik menghadapi tantangan berat akibat ketidakpastian ekonomi.
  • Penguatan arus kas, efisiensi operasional, dan diversifikasi bahan baku menjadi strategi utama menghadapi tekanan.

BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah dan melambatnya daya beli masyarakat menjadi ancaman terbesar bagi dunia usaha saat ini?

Mampukah para pengusaha mempertahankan pertumbuhan bisnis ketika biaya produksi terus meningkat sementara ketidakpastian ekonomi global masih membayangi berbagai sektor usaha?

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia wilayah Jawa Barat, Agung Suryamal, menilai dunia usaha sedang menghadapi tekanan berlapis yang menuntut perubahan strategi bisnis secara cepat.

Baca Juga: Mengapa Indonesia Belum Menjadi Negara Maju Meski Kaya SDA dan Bonus Demografi yang Sangat Besar

Menurutnya, tantangan tersebut tidak hanya berasal dari pelemahan rupiah, tetapi juga meningkatnya biaya produksi dan melambatnya permintaan pasar.

Kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha mengalihkan fokus dari ekspansi menuju upaya menjaga keberlangsungan bisnis.

Pelemahan Rupiah Membuat Biaya Produksi Semakin Sulit Dikendalikan

Agung menjelaskan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap harga bahan baku impor, mesin produksi, komponen elektronik, dan kebutuhan industri lainnya.

Baca Juga: Rupiah Mendekati Rp18.000 Per Dolar AS, Mengapa Pemerintah Tetap Optimistis Ekonomi Tetap Kuat Tahun Ini

Sektor manufaktur, farmasi, otomotif, tekstil, dan elektronik menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan tersebut.

“Masalahnya, tidak semua korporasi dapat langsung menaikkan harga jual karena daya beli konsumen juga sedang tertekan,” ujar Agung.

Akibatnya, margin keuntungan pelaku usaha terus mengalami penyusutan dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: WALHI Desak Audit Lingkungan PT FHT Setelah Dugaan Sedimentasi Muncul di Perairan Teluk Buli Halmahera Timur

Daya Beli Masyarakat Melambat dan Menekan Permintaan Pasar

Selain biaya produksi, tantangan lain datang dari perlambatan konsumsi rumah tangga yang memengaruhi berbagai sektor usaha.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Banny Rachman

Tags

Artikel Terkait

Terkini