• Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Tembus Rp17.812, Ichsanuddin Noorsy Ungkap Sinyal Tekanan Ekonomi Terlihat Pada Sektor Riil

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Minggu, 31 Mei 2026 | 19:28 WIB
Ichsanuddin Noorsy menjelaskan dampak pelemahan rupiah terhadap sektor riil dalam podcast EdShareOn yang membahas kondisi ekonomi Indonesia 2026. (Dok. Podcast EdShareOn)
Ichsanuddin Noorsy menjelaskan dampak pelemahan rupiah terhadap sektor riil dalam podcast EdShareOn yang membahas kondisi ekonomi Indonesia 2026. (Dok. Podcast EdShareOn)

THE BOTTOM LINE:

  • Rupiah menyentuh Rp17.812 per Dolar AS, Ichsanuddin Noorsy menilai ekonomi Indonesia memasuki fase transisi menuju tekanan lebih serius.
  • Pelemahan rupiah mulai berdampak ke sektor riil melalui kenaikan biaya impor, produksi, energi, dan pangan nasional.
  • UMKM menjadi kelompok paling rentan dengan rasio kredit bermasalah 4,61 persen, jauh di atas korporasi besar.

BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah menuju level Rp18.000 hanya gejolak sementara atau sinyal tekanan ekonomi yang lebih serius?

Mengapa sektor UMKM justru dinilai menjadi pihak yang paling rentan ketika nilai tukar, kredit, dan daya beli masyarakat sama-sama menghadapi tantangan?

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp17.812 per Dolar AS memunculkan kekhawatiran baru terhadap kondisi ekonomi nasional, terutama karena dampaknya mulai terasa pada sektor riil yang menjadi penopang utama aktivitas usaha dan konsumsi masyarakat.

Baca Juga: Bahlil Cari Pembuat Lagu MBG Viral, Respons Santainya Justru Memicu Perhatian Publik Lebih Luas Nasional

Ekonom politik Ichsanuddin Noorsy, pengamat ekonomi dan kebijakan publik, menilai perekonomian Indonesia saat ini berada dalam fase yang mengkhawatirkan setelah sejumlah indikator menunjukkan tekanan yang terus meningkat.

“Indonesia sudah dalam posisi transisi dari lampu kuning ke lampu merah,” kata Ichsanuddin Noorsy dalam podcast EdShareOn yang dipandu Eddy Wijaya yang tayang pada Rabu, 27 Mei 2026.

Pelemahan Rupiah Mulai Menekan Aktivitas Produksi Nasional

Menurut Noorsy, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas produksi nasional yang bergantung pada bahan baku impor.

Baca Juga: PSMTI Yogyakarta Punya Ketua Baru, Musprov III Soroti Regenerasi Kepemimpinan dan Arah Organisasi Daerah

Ia menjelaskan bahwa kenaikan biaya impor berpotensi meningkatkan biaya produksi industri, energi, dan pangan sehingga dapat menekan daya beli masyarakat dalam jangka menengah.

Kondisi tersebut tercermin dari penurunan Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia yang turun dari 50,1 menjadi 49,1 pada pertengahan Mei 2026.

“Artinya, roda mesin produksi kita perlahan-lahan berhenti,” ujar Noorsy.

Baca Juga: BRI Perluas Layanan Money Changer di Bandara dan Perbatasan, Mudahkan Transaksi Valas Masyarakat Indonesia

Cadangan Devisa Menurun dan Likuiditas Semakin Terbatas

Noorsy juga menyoroti berkurangnya cadangan devisa Indonesia selama empat bulan berturut-turut sejak Januari 2026 yang menunjukkan tekanan terhadap stabilitas moneter.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Banny Rachman

Tags

Artikel Terkait

Terkini