THE BOTTOM LINE:
- Rupiah menyentuh Rp17.812 per Dolar AS, Ichsanuddin Noorsy menilai ekonomi Indonesia memasuki fase transisi menuju tekanan lebih serius.
- Pelemahan rupiah mulai berdampak ke sektor riil melalui kenaikan biaya impor, produksi, energi, dan pangan nasional.
- UMKM menjadi kelompok paling rentan dengan rasio kredit bermasalah 4,61 persen, jauh di atas korporasi besar.
BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah menuju level Rp18.000 hanya gejolak sementara atau sinyal tekanan ekonomi yang lebih serius?
Mengapa sektor UMKM justru dinilai menjadi pihak yang paling rentan ketika nilai tukar, kredit, dan daya beli masyarakat sama-sama menghadapi tantangan?
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp17.812 per Dolar AS memunculkan kekhawatiran baru terhadap kondisi ekonomi nasional, terutama karena dampaknya mulai terasa pada sektor riil yang menjadi penopang utama aktivitas usaha dan konsumsi masyarakat.
Ekonom politik Ichsanuddin Noorsy, pengamat ekonomi dan kebijakan publik, menilai perekonomian Indonesia saat ini berada dalam fase yang mengkhawatirkan setelah sejumlah indikator menunjukkan tekanan yang terus meningkat.
“Indonesia sudah dalam posisi transisi dari lampu kuning ke lampu merah,” kata Ichsanuddin Noorsy dalam podcast EdShareOn yang dipandu Eddy Wijaya yang tayang pada Rabu, 27 Mei 2026.
Pelemahan Rupiah Mulai Menekan Aktivitas Produksi Nasional
Menurut Noorsy, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas produksi nasional yang bergantung pada bahan baku impor.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan biaya impor berpotensi meningkatkan biaya produksi industri, energi, dan pangan sehingga dapat menekan daya beli masyarakat dalam jangka menengah.
Kondisi tersebut tercermin dari penurunan Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia yang turun dari 50,1 menjadi 49,1 pada pertengahan Mei 2026.
“Artinya, roda mesin produksi kita perlahan-lahan berhenti,” ujar Noorsy.
Cadangan Devisa Menurun dan Likuiditas Semakin Terbatas
Noorsy juga menyoroti berkurangnya cadangan devisa Indonesia selama empat bulan berturut-turut sejak Januari 2026 yang menunjukkan tekanan terhadap stabilitas moneter.
Artikel Terkait
Dolar AS Dekati Rp18.000, Tekanan Rupiah Bikin Pelaku Usaha Nasional Mulai Tingkatkan Kewaspadaan Finansial
Harga TBS Sawit Turun, Pemerintah Ancam Cabut Izin PKS Nakal Jika Langgar Ketentuan Harga Nasional
Wamentan Sudaryono Pastikan Ekspor Sawit Tetap Normal Meski Harga TBS Sempat Bergejolak di Berbagai Daerah
Rupiah Jadi Penyangga Tekanan Ekonomi Nasional, Ekonom Ungkap Penyebab Pelemahan Kurs yang Terjadi Saat Ini
Mengapa Rupiah Terus Melemah Saat Inflasi Terkendali, Ini Penjelasan Ekonom Mengenai Kondisi Ekonomi
Warga Pulau Obi Laporkan Harita Group ke Jakarta Usai Banjir Tambang Nikel Terus Berulang Setiap Bulan
Belajar adalah Seperti Sebuah Perahu Kecil yang Melawan Arus, Kalau Tidak Maju, Berarti Mundur
BRI Perluas Layanan Money Changer di Bandara dan Perbatasan, Mudahkan Transaksi Valas Masyarakat Indonesia
PSMTI Yogyakarta Punya Ketua Baru, Musprov III Soroti Regenerasi Kepemimpinan dan Arah Organisasi Daerah
Bahlil Cari Pembuat Lagu MBG Viral, Respons Santainya Justru Memicu Perhatian Publik Lebih Luas Nasional