THE BOTTOM LINE:
- Kritik The Economist memicu perdebatan soal arah ekonomi Indonesia, sementara Fahri Hamzah menilai strategi nasional fokus pada kedaulatan ekonomi
- Prabowonomics disebut menjadi pendekatan baru untuk keluar dari middle income trap melalui hilirisasi, investasi SDM, dan penguatan negara
- Pemerintah menilai stabilitas politik dan transformasi ekonomi menjadi fondasi penting menuju target Indonesia Emas 2045
BISNISNEWS.COM - Apakah kritik media Barat terhadap arah ekonomi Indonesia mencerminkan realitas terbaru di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto?
Mengapa strategi pembangunan yang menekankan intervensi negara justru dinilai sebagian kalangan sebagai peluang Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah?
Kritik The Economist dan Ujian Strategi Ekonomi Baru Indonesia
Majalah The Economist kembali menyoroti arah kebijakan Indonesia melalui dua artikel yang mempertanyakan strategi ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Media tersebut menilai penguatan peran negara berpotensi mengaburkan disiplin fiskal dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas demokrasi nasional.
Namun, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI Fahri Hamzah menilai kritik itu harus dibaca secara kritis dalam konteks transformasi ekonomi Indonesia.
Ia menyebut narasi tersebut lahir dari pendekatan lama yang menilai pembangunan hanya melalui perspektif liberalisasi pasar.
Menurut Fahri Hamzah, Indonesia tengah merumuskan pendekatan pembangunan yang berpijak pada kebutuhan domestik dan mandat konstitusi.
Pandangan itu merujuk pada Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan pengelolaan sumber daya untuk kemakmuran rakyat.
Prabowonomics Menawarkan Jalan Keluar dari Middle Income Trap
Fahri Hamzah menyebut Indonesia menghadapi tantangan struktural yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto terus menghadapi tekanan, sementara ekspor komoditas mentah masih mendominasi struktur perdagangan nasional.
Artikel Terkait
Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Apa Risiko Fiskal yang Mengancam Daya Tahan Ekonomi Indonesia
Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Daya Beli, Tekanan Dolar AS Kini Terasa Sampai Pasar Tradisional
Rupiah Dekati Rp18.000, Anthony Budiawan Ungkap Faktor Struktural Ekonomi yang Menjadi Pemicu Tekanan
Mengapa Rupiah Terus Melemah Menuju Rp18.000? Anthony Budiawan Soroti Defisit Transaksi Berjalan
Rupiah Tembus Rp17.600, Mampukah BI Kembalikan Kurs ke Rp16.500 Di Tengah Tekanan Dolar Global 2026
Rupiah Melemah Ke Rp17.600, Mengapa BITetap Optimistis Soal Stabilitas Nilai Tukar Indonesia Tahun Ini
Rupiah Terus Tertekan, Didik J Rachbini Menilai Reformasi Institusi Jadi Kunci Penguatan Nilai Tukar Indonesia
Rupiah Melemah, Didik J Rachbini Ungkap Pelajaran Era Habibie yang Relevan untuk Memulihkan Kepercayaan Pasar
Kenaikan Dolar AS dan Dampaknya ke Desa, Jaya Suprana Ungkap Fakta Ekonomi yang Jarang Disadari Publik
Fahri Hamzah Respons Kritik The Economist, Prabowonomics Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap