• Kamis, 4 Juni 2026

Mengapa Rupiah Terus Melemah Menuju Rp18.000? Anthony Budiawan Soroti Defisit Transaksi Berjalan

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Selasa, 19 Mei 2026 | 19:00 WIB
Anthony Budiawan menjelaskan pelemahan rupiah lebih dipengaruhi masalah struktural ekonomi dibanding faktor teknis kebijakan moneter. Gubernur BI Perry Warjiyo (Dok. Hallo.id /Kreasi Dola AI)
Anthony Budiawan menjelaskan pelemahan rupiah lebih dipengaruhi masalah struktural ekonomi dibanding faktor teknis kebijakan moneter. Gubernur BI Perry Warjiyo (Dok. Hallo.id /Kreasi Dola AI)

THE BOTTOM LINE:

  • Pelemahan rupiah menuju Rp18.000 per Dolar AS dinilai mencerminkan tekanan struktural ekonomi, bukan semata kebijakan moneter Bank Indonesia.
  • Anthony Budiawan menilai defisit transaksi berjalan dan lemahnya ekspor menjadi faktor utama yang menekan stabilitas kurs rupiah.
  • Cadangan devisa turun 10,3 miliar Dolar AS pada awal 2026, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional.

BISNISNEWS.COM - Mengapa rupiah terus mendekati Rp18.000 per Dolar AS meski intervensi moneter berjalan?

Apakah pelemahan kurs ini sekadar gejolak pasar, atau sinyal persoalan struktural ekonomi Indonesia yang lebih dalam?

Rupiah Dekati Rp18.000, Anthony Budiawan Soroti Akar Struktural Tekanan Ekonomi Indonesia

Nilai tukar rupiah yang semakin mendekati Rp18.000 per Dolar AS pada Selasa, 19/05/2026, memicu perhatian serius pelaku pasar dan ekonom nasional.

Baca Juga: Rupiah Melemah Saat Dolar AS Menguat, Seberapa Besar Dampaknya Pada Daya Beli Masyarakat

Di tengah tekanan tersebut, perdebatan mengenai pihak yang paling bertanggung jawab atas pelemahan kurs kembali mengemuka dalam ruang publik.

Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan menilai tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan kebijakan moneter.

Menurut Anthony Budiawan, akar persoalan terletak pada persoalan struktural ekonomi yang telah berlangsung cukup panjang.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Naik, Ini Strategi BI Menjaga Stabilitas Ekonomi di Tengah Tekanan Global

Ia menegaskan bahwa desakan terhadap Gubernur Perry Warjiyo untuk mundur tidak serta-merta menjadi solusi terhadap pelemahan mata uang nasional.

“Permasalahan kurs rupiah bersifat struktural dan berada di luar kendali teknis otoritas moneter,” ujar Anthony Budiawan.

Defisit Transaksi Berjalan Menjadi Sumber Pelemahan Berkepanjangan

Anthony menjelaskan bahwa tekanan rupiah terutama berasal dari defisit neraca transaksi berjalan yang bersifat struktural dan berlangsung selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Mengapa Defisit Fiskal dan Pelemahan Rupiah Membayangi Stabilitas

Defisit tersebut menyebabkan kebutuhan devisa terus meningkat sementara pasokan valuta asing belum cukup menopang kebutuhan ekonomi domestik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini