THE BOTTOM LINE:
- Pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.500 per Dolar AS dipicu tekanan global dan domestik, berpotensi menekan stabilitas ekonomi nasional
- Konflik Timur Tengah memperkuat permintaan Dolar AS sebagai aset aman, memicu tekanan kurs dan meningkatkan risiko inflasi impor
- Akademisi UGM menilai disiplin fiskal dan perlindungan sosial menjadi kunci meredam dampak pelemahan rupiah bagi masyarakat
BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah menuju Rp17.400 per Dolar AS menjadi sinyal ancaman baru bagi harga kebutuhan pokok?
Bisakah gejolak konflik Timur Tengah memicu efek domino yang langsung terasa di dompet masyarakat Indonesia dalam beberapa bulan mendatang?
Rupiah Tertekan, Alarm Ekonomi Rumah Tangga Makin Nyata
Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan dan bergerak di kisaran Rp17.500 per Dolar AS di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi domestik, terutama setelah tren pelemahan rupiah berulang dalam hampir tiga dekade terakhir.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, S.E., M.Sc., Ph.D, menyebut tekanan saat ini sebagai akumulasi berbagai faktor global dan domestik.
Menurut Rijadh, situasi tersebut mencerminkan fenomena perfect storm ketika beberapa tekanan ekonomi muncul bersamaan dan saling memperkuat.
Ia menjelaskan ketegangan geopolitik global mendorong investor mengalihkan aset menuju Dolar AS sebagai instrumen lindung nilai paling aman.
Laporan berbagai media arus utama sebelumnya juga menunjukkan pola serupa saat ketidakpastian global meningkat, termasuk ketika gejolak energi dan konflik kawasan memicu penguatan mata uang Amerika.
Inflasi Impor Berpotensi Menekan Harga Kebutuhan Masyarakat
Pelemahan rupiah dinilai memiliki dampak langsung terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat melalui mekanisme inflasi impor.
Baca Juga: Krisis Reputasi Ancam Korporasi, Respons Dua Jam Pertama Jadi Penentu Utama Tangani Isu Viral Medsos
Rijadh menjelaskan korporasi yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi lonjakan biaya produksi dalam denominasi rupiah.
“Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).
Artikel Terkait
Kasus PT AKT Memanas, Kejagung Tahan Pemilik PT CBU Usai Dugaan Manipulasi Dokumen Ekspor Batu Bara
Kontainer Misterius dì Tanjung Mas Disita KPK, Apa Kaitannya dengan Kasus Korupsi Importasi Ditjen Bea Cukai
Prabowo Minta Publik Tetap Tenang Saat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61 Persen Jadi Sinyal Ketahanan Nasional Hadapi Tekanan Global
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Pernyataan Prabowo Soal Fundamental Kuat Jadi Sorotan Di Tengah Gejolak Dunia
CBA Soroti Kasus 28 Korporasi Sumatera, Akankah Polri Buka Progres Pengusutan Dugaan Kerusakan Lingkungan
Pencabutan Izin 28 Korporasi Sumatera, CBA Minta Langkah Hukum Polri dalam Dugaan Bencana Ekologis
Krisis Reputasi Ancam Korporasi, Respons Dua Jam Pertama Jadi Penentu Utama Tangani Isu Viral Medsos
Pelemahan Rupiah Bikin Harga di Desa Naik Meski Warga Tak Pernah Bertransaksi Dolar AS Secara Langsung
Harga Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS Setelah Serangan Drone UEA, Apa Dampaknya Bagi Stabilitas Energi
Rupiah Melemah ke Rp17.500 Per Dolar AS, Seberapa Besar Ancaman Kenaikan Harga Bagi Ekonomi Saat Ini