THE BOTTOM LINE:
- Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah mendekati Rp17.800 per Dolar AS tidak sesuai fundamental ekonomi nasional.
- Pemerintah memastikan APBN tetap aman karena simulasi tekanan kurs dan minyak dunia sudah dihitung sebelumnya.
- Intervensi pasar obligasi dilakukan pemerintah untuk menjaga yield tetap stabil dan menarik investor asing masuk.
BISNISNEWS.COM - Mengapa rupiah terus melemah ketika fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat oleh pemerintah?
Benarkah pelemahan kurs hingga Rp17.800 per Dolar AS menjadi sinyal tekanan baru bagi pasar keuangan nasional dan daya beli masyarakat produktif?
Rupiah Melemah Saat Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Solid
Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS hampir menyentuh level Rp17.800 pada penutupan perdagangan Selasa, 26/05/2026.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS Meski BI Rate Naik, Pasar Mulai Khawatir Dampak Ekonomi Nasional
Berdasarkan data Bloomberg, kurs Dolar AS ditutup menguat 0,29 persen atau 52 poin menjadi Rp17.795 per Dolar AS.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran melihat pelemahan rupiah yang terjadi di tengah kondisi fundamental ekonomi domestik yang dinilai baik.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus, ini nggak masuk akal sebenarnya,” ujar Purbaya di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu (27/05/2026).
Pernyataan tersebut muncul ketika pasar keuangan domestik menghadapi tekanan global akibat penguatan mata uang Dolar AS dan ketidakpastian arah suku bunga internasional.
Sebelumnya, sejumlah media melaporkan tekanan kurs rupiah meningkat sejak awal kuartal kedua 2026 akibat arus modal asing yang bergerak hati-hati.
Pemerintah Pastikan APBN Tetap Aman Dari Tekanan Kurs
Purbaya menegaskan pemerintah belum perlu melakukan penghitungan ulang terhadap ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN.
Baca Juga: Pemerintah Tunda Ekspor Lewat Danantara Hingga 2027 Demi Stabilitas Devisa dan Perdagangan Nasional
Menurut dia, simulasi tekanan eksternal sebelumnya sudah memasukkan asumsi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia hingga 100 Dolar AS per barel.
Artikel Terkait
Seleksi Ketat P3MD Saring 6.000 Peserta Jadi Pemimpin Masa Depan BUMN Pilihan Pemerintah Indonesia
Diplomasi Dagang Indonesia dngan Tiongkok Fokus Perkuat Rantai Pasok Global Strategis Nasional Tahun 2026
Diskusi Paramadina Bahas Kritik The Economist Terhadap Demokrasi dan Stabilitas Ekonomi Indonesia Terkini
The Economist Soroti Risiko Ekonomi, Akademisi Paramadina Ingatkan Pentingnya Pulihkan Kepercayaan Publik
Kemendag Bocorkan Lima Fokus Revisi E-Commerce untuk Lindungi UMKM dan Konsumen Digital Indonesia
Rp100 Miliar APBN untuk Sapi Presiden Prabowo Jadi Sorotan Publik Jelang Distribusi Kurban Nasional Tahun Ini
Pemerintah Tunda Ekspor Lewat Danantara Hingga 2027 Demi Stabilitas Devisa dan Perdagangan Nasional
Gunung Bromo Ditutup Total Mulai 30 Mei 2026 Saat Ritual Suci Yadnya Kasada yang Digelar Masyarakat Tengger
Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS Meski BI Rate Naik, Pasar Mulai Khawatir Dampak Ekonomi Nasional
Purbaya Heran Rupiah Nyaris Rp17.800 per Dolar AS Meski Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat Stabil