THE BOTTOM LINE:
- Akademisi Paramadina menilai kritik The Economist menjadi alarm penting bagi ekonomi dan demokrasi Indonesia terkini.
- Sudirman Said menyoroti krisis kepercayaan publik sebagai ancaman utama stabilitas politik dan ekonomi nasional Indonesia.
- Ekonom mengingatkan pelemahan institusi serta disiplin fiskal dapat memperbesar risiko perlambatan ekonomi Indonesia jangka panjang.
BISNISNEWS.COM - Apakah kritik tajam media internasional menandakan ekonomi Indonesia benar-benar memasuki fase rawan?
Mengapa sejumlah akademisi menilai ancaman terbesar justru berasal dari menurunnya kepercayaan terhadap institusi negara?
Kritik The Economist Dinilai Jadi Alarm Serius Bagi Ekonomi Indonesia
Diskusi akademik di Universitas Paramadina memunculkan peringatan serius mengenai arah tata kelola ekonomi dan demokrasi Indonesia setelah laporan media internasional menyoroti risiko fiskal serta pelemahan institusi negara.
Forum bertajuk “Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?” menghadirkan akademisi, ekonom, dan peneliti yang menilai kritik tersebut perlu dibaca sebagai alarm kebijakan.
Diskusi berlangsung secara hibrida di Kampus Universitas Paramadina Kuningan, Jakarta, bersama Universitas Harkat Negeri, Kamis (22/5/2026), dan dipandu M. Rosyid Jazuli, Ph.D.
Akademisi Menilai Penurunan Kepercayaan Publik Mulai Mengkhawatirkan Saat Ini
Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, mengatakan isu paling penting dari laporan The Economist adalah menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.
Baca Juga: Indonesia Dorong Akses Pasar Tiongkok Demi Perkuat Ekspor Pertanian pada Forum Perdagangan APEC 2026
Menurut Sudirman, pelemahan integritas, meritokrasi, dan mekanisme pengawasan berpotensi memperlebar jarak antara legitimasi publik dan otoritas negara.
“Seluruh uraian dari The Economist dan akibat ikutannya baik di pasar politik maupun ekonomi ini adalah soal declining trust,” katanya dalam diskusi tersebut.
Ia menilai pemerintah perlu memulihkan kepercayaan pelaku ekonomi melalui tata kelola yang transparan dan konsisten agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Kemiripan Situasi Ekonomi dengan Krisis 1998 Mulai Disoroti Akademisi
Ekonom Universitas Indonesia, Moh. Ikhsan, menyebut Indonesia belum berada di ambang krisis, tetapi tanda-tanda tekanan mulai terlihat.
Ia menyoroti kemiripan pola dengan kondisi menjelang krisis 1997–1998, terutama terkait pelemahan kredibilitas fiskal dan melemahnya institusi independen.
Artikel Terkait
Bisnisnews.com Hadirkan Platform 'Traktir Kopi' untuk Apresiasi dari Pembaca Demi Jurnalisme yang Berkualitas
IHSG dan Rupiah Tertekan Tajam, Analis Soroti Ketergantungan Pasar Indonesia Pada Modal Asing Global Hari Ini
Wagub Sumsel Dorong Investasi Tiongkok Masuk Sumatera Selatan Lewat Forum Pertukaran Politik dan Bisnis
Prabowo Siapkan 400 Calon Pemimpin BUMN Lewat Program P3MD Untuk Perkuat Transformasi Korporasi Negara
Startup Tiongkok Luncurkan Kalung AI Penerjemah Suara Kucing, Bisakah Teknologi Ini Memahami Emosi Hewan
Siswi Makassar Gagal Paskibraka Meski Nilai Tinggi, Transparansi Seleksi Kini Jadi Sorotan Publik Nasional
Konflik Agraria Sawit Ketapang dan Jambi Kembali Memicu Sorotan Nasional Terhadap Tata Kelola Perkebunan
Indonesia Dorong Akses Pasar Tiongkok Demi Perkuat Ekspor Pertanian pada Forum Perdagangan APEC 2026
Distribusi Dapur MBG Jadi Sorotan Setelah Daerah Rawan Pangan Minim Fasilitas SPPG Pemerintah Nasional
The Economist Soroti Risiko Ekonomi, Akademisi Paramadina Ingatkan Pentingnya Pulihkan Kepercayaan Publik