THE BOTTOM LINE:
- Pelemahan rupiah terhadap Dolar AS berpotensi menekan daya beli masyarakat produktif dan meningkatkan inflasi domestik.
- Pakar perbankan Universitas Airlangga meminta masyarakat memperkuat dana darurat dan mengurangi belanja konsumtif berlebihan.
- Kenaikan biaya impor akibat rupiah melemah dapat memicu penyesuaian harga barang kebutuhan harian masyarakat Indonesia.
BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah hanya berdampak pada investor besar dan korporasi?
Mengapa harga kebutuhan sehari-hari perlahan naik meski gaji pekerja tetap stagnan beberapa bulan terakhir?
Pelemahan Rupiah Mulai Menggerus Daya Beli Kalangan Produktif Nasional
Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap Dolar AS mulai memicu kekhawatiran masyarakat produktif karena berdampak langsung terhadap harga kebutuhan harian.
Tekanan kurs juga meningkatkan biaya impor bahan baku industri sehingga berpotensi menaikkan harga barang konsumsi dalam beberapa bulan mendatang.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Sucipto, menyebut pelemahan rupiah harus disikapi masyarakat dengan strategi keuangan yang lebih disiplin dan realistis.
“Ketika rupiah melemah, masyarakat perlu menata ulang prioritas pengeluaran agar kondisi finansial tetap aman,” kata Sucipto dalam keterangan resmi Universitas Airlangga, Kamis (28/5/2026).
Baca Juga: 300 Titik Tambang Emas Ilegal Sumbar Bertahan Karena Cadangan Aluvial Dinilai Masih Sangat Melimpah
Menurutnya, tekanan nilai tukar dapat memicu kenaikan inflasi sehingga daya beli masyarakat berisiko turun apabila pengeluaran tidak dikendalikan sejak awal.
Strategi Finansial Penting Saat Nilai Tukar Rupiah Terus Tertekan Global
Sucipto menjelaskan masyarakat perlu mengurangi belanja konsumtif agar arus kas rumah tangga tetap sehat selama ketidakpastian ekonomi global berlangsung.
Ia menilai penguatan dana darurat menjadi langkah penting karena tekanan ekonomi eksternal dapat memengaruhi stabilitas pekerjaan dan pendapatan masyarakat.
“Masyarakat jangan mudah panik membeli barang secara berlebihan karena justru memperbesar tekanan pengeluaran rumah tangga,” ujarnya.
Artikel Terkait
Seleksi Ketat P3MD Saring 6.000 Peserta Jadi Pemimpin Masa Depan BUMN Pilihan Pemerintah Indonesia
Diplomasi Dagang Indonesia dngan Tiongkok Fokus Perkuat Rantai Pasok Global Strategis Nasional Tahun 2026
Diskusi Paramadina Bahas Kritik The Economist Terhadap Demokrasi dan Stabilitas Ekonomi Indonesia Terkini
Rp100 Miliar APBN untuk Sapi Presiden Prabowo Jadi Sorotan Publik Jelang Distribusi Kurban Nasional Tahun Ini
Pemerintah Tunda Ekspor Lewat Danantara Hingga 2027 Demi Stabilitas Devisa dan Perdagangan Nasional
Gunung Bromo Ditutup Total Mulai 30 Mei 2026 Saat Ritual Suci Yadnya Kasada yang Digelar Masyarakat Tengger
Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS Meski BI Rate Naik, Pasar Mulai Khawatir Dampak Ekonomi Nasional
Purbaya Heran Rupiah Nyaris Rp17.800 per Dolar AS Meski Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat Stabil
300 Titik Tambang Emas Ilegal Sumbar Bertahan Karena Cadangan Aluvial Dinilai Masih Sangat Melimpah
BlackRock Ungkap Investor Global Kini Fokus Buru Korporasi Tambang Jumbo Demi Stabilitas Investasi Jangka Panjang