BISNISNEWS.COM - Mengapa investor global kini lebih memilih korporasi pertambangan raksasa dibanding emiten tambang menengah yang sebelumnya agresif berekspansi?
Apakah lonjakan kebutuhan mineral strategis dunia membuat korporasi tambang jumbo menjadi aset paling aman menghadapi ketidakpastian ekonomi global?
BlackRock Ungkap Investor Global Kini Incar Korporasi Pertambangan Jumbo
Investor global kini semakin selektif memilih aset pertambangan dengan fundamental kuat dan skala produksi besar di tengah tekanan ekonomi dunia.
Baca Juga: 300 Titik Tambang Emas Ilegal Sumbar Bertahan Karena Cadangan Aluvial Dinilai Masih Sangat Melimpah
Head of Natural Resources Asia BlackRock Evy Hambali menyebut investor lebih tertarik pada korporasi pertambangan jumbo karena dinilai stabil menghadapi volatilitas pasar global.
“Investor global mencari korporasi dengan cadangan besar, tata kelola kuat, dan kemampuan ekspansi jangka panjang,” ujar Evy Hambali dalam keterangannya, Kamis, 28/05/2026.
Menurut BlackRock, kebutuhan mineral strategis untuk kendaraan listrik dan transisi energi menjadi faktor utama meningkatnya minat terhadap sektor pertambangan global.
Korporasi tambang besar dinilai lebih siap memenuhi lonjakan permintaan nikel, tembaga, dan mineral penting lain yang dibutuhkan industri energi bersih dunia.
Korporasi Tambang Besar Dinilai Lebih Tahan Hadapi Gejolak Ekonomi Dunia
BlackRock menilai ketidakpastian geopolitik membuat investor global lebih berhati-hati menempatkan modal pada sektor berbasis komoditas strategis.
Evy Hambali mengatakan korporasi pertambangan berskala besar memiliki kemampuan pengelolaan risiko yang lebih baik dibandingkan korporasi kecil.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS Meski BI Rate Naik, Pasar Mulai Khawatir Dampak Ekonomi Nasional
“Investor global saat ini sangat mempertimbangkan stabilitas operasional dan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang,” kata Evy Hambali.
Selain memiliki cadangan besar, korporasi jumbo dinilai mampu menjaga efisiensi produksi ketika harga komoditas dunia mengalami tekanan signifikan.
Artikel Terkait
Seleksi Ketat P3MD Saring 6.000 Peserta Jadi Pemimpin Masa Depan BUMN Pilihan Pemerintah Indonesia
Diplomasi Dagang Indonesia dngan Tiongkok Fokus Perkuat Rantai Pasok Global Strategis Nasional Tahun 2026
Diskusi Paramadina Bahas Kritik The Economist Terhadap Demokrasi dan Stabilitas Ekonomi Indonesia Terkini
Kemendag Bocorkan Lima Fokus Revisi E-Commerce untuk Lindungi UMKM dan Konsumen Digital Indonesia
Rp100 Miliar APBN untuk Sapi Presiden Prabowo Jadi Sorotan Publik Jelang Distribusi Kurban Nasional Tahun Ini
Pemerintah Tunda Ekspor Lewat Danantara Hingga 2027 Demi Stabilitas Devisa dan Perdagangan Nasional
Gunung Bromo Ditutup Total Mulai 30 Mei 2026 Saat Ritual Suci Yadnya Kasada yang Digelar Masyarakat Tengger
Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS Meski BI Rate Naik, Pasar Mulai Khawatir Dampak Ekonomi Nasional
Purbaya Heran Rupiah Nyaris Rp17.800 per Dolar AS Meski Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat Stabil
300 Titik Tambang Emas Ilegal Sumbar Bertahan Karena Cadangan Aluvial Dinilai Masih Sangat Melimpah