• Kamis, 4 Juni 2026

Kritik The Economist pada Indonesia, Fahri Hamzah Jelaskan Strategi Prabowonomics Menuju Kedaulatan Ekonomi

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Jumat, 29 Mei 2026 | 06:10 WIB
Wakil Menteri PKP RI Fahri Hamzah menjelaskan respons pemerintah terhadap kritik The Economist atas arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam agenda transformasi menuju Indonesia Emas 2045 . (Instagram.com @fahrihamzah)
Wakil Menteri PKP RI Fahri Hamzah menjelaskan respons pemerintah terhadap kritik The Economist atas arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam agenda transformasi menuju Indonesia Emas 2045 . (Instagram.com @fahrihamzah)

Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab Indonesia menghadapi ancaman middle-income trap.

Ia menegaskan strategi ekonomi baru diarahkan untuk membangun nilai tambah nasional melalui industrialisasi.

Baca Juga: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Apa Risiko Fiskal yang Mengancam Daya Tahan Ekonomi Indonesia

Menurut Fahri Hamzah, langkah itu bukan penolakan terhadap pasar, melainkan koreksi terhadap model pembangunan yang dinilai belum optimal.

Latar belakangnya, sejumlah media arus utama sebelumnya menyoroti perlunya hilirisasi mineral sebagai strategi meningkatkan daya saing nasional.

Kebijakan larangan ekspor bahan mentah pada era sebelumnya juga telah mendorong pertumbuhan investasi smelter.

Baca Juga: Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Daya Beli, Tekanan Dolar AS Kini Terasa Sampai Pasar Tradisional

Tiga Pilar Strategi Pembangunan yang Kini Diperkuat

Fahri Hamzah menjelaskan strategi pembangunan nasional bertumpu pada tiga pilar utama.

Pertama, investasi sumber daya manusia melalui program sosial seperti makan bergizi gratis dan perumahan rakyat.

Ia menilai program tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas produktivitas nasional.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.600, Mampukah BI Kembalikan Kurs ke Rp16.500 Di Tengah Tekanan Dolar Global 2026

Kedua, konsolidasi aset strategis melalui pembentukan Danantara sebagai instrumen penguatan pembiayaan pembangunan nasional.

Menurutnya, model ini mengadopsi praktik korporasi investasi strategis yang diterapkan sejumlah negara Asia.

Ketiga, penguatan hilirisasi pada sektor mineral, pertanian, maritim, dan energi.

Baca Juga: Rupiah Dekati Rp18.000, Anthony Budiawan Ungkap Faktor Struktural Ekonomi yang Menjadi Pemicu Tekanan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini