THE BOTTOM LINE:
- Kesadaran pimpinan korporasi terhadap pentingnya komunikasi strategis masih terbatas akibat tekanan biaya dan inflasi nasional meningkat
- Studi APPRI menunjukkan pergeseran peran PR menuju fungsi strategis berbasis data, reputasi, dan dampak bisnis terukur
- Optimisme industri PR tetap tinggi dengan mayoritas responden yakin pertumbuhan sektor akan meningkat dalam tiga hingga lima tahun
BISNISNEWS.COM - Bagaimana korporasi bertahan saat tekanan ekonomi global menekan anggaran komunikasi dan reputasi bisnis?
Apakah strategi public relations masih relevan ketika dampak langsung terhadap kinerja keuangan semakin dituntut secara nyata?
APPRI Rilis Survei PR 2026 Ungkap Perubahan Strategi Komunikasi Korporasi
Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI)merilis studi terbaru mengenai tren belanja jasa PR 2026 untuk membantu pelaku industri membaca arah perubahan komunikasi bisnis nasional.
Studi yang digarap bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya ini menjadi salah satu pemetaan empiris pertama terkait perilaku pengguna jasa PR di Indonesia.
Peluncuran riset tersebut dilakukan pada Senin (28/04/2026) di Jakarta dengan melibatkan pelaku industri, akademisi, serta perwakilan korporasi lintas sektor.
Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, menegaskan riset ini penting sebagai panduan strategis bagi konsultan komunikasi menghadapi tekanan ekonomi global.
Baca Juga: Tiongkok Kritik Keras Sanksi Amerika Serikat Pada Kilang Iran, Ancaman Baru Stabilitas Energi Global
Ia menyebut kebutuhan pemetaan ini semakin mendesak karena perubahan lanskap bisnis menuntut komunikasi yang lebih terukur dan berdampak nyata.
Tekanan Inflasi dan Geopolitik Ubah Prioritas Komunikasi Bisnis Nasional
Latar belakang studi ini tidak lepas dari tekanan global seperti konflik Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga energi.
Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga BBM yang berdampak pada inflasi domestik dan daya beli masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Tiongkok Tolak Sanksi Amerika Serikat Atas Kilang Minyak Iran Picu Ketegangan Energi Global Dunia
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Maret 2026 mencapai 0,41 persen, sementara inflasi tahunan Januari menyentuh 3,55 persen.
Artikel Terkait
Danantara Masuk Bisnis Ojol Ambil Saham Aplikator, Ini Pengaruhnya Pada Tarif dan Kesejahteraan Driver
Minyak Dunia Melonjak, Tenggat 60 Hari Presiden Donald Trump Picu Kekhawatiran Pasar Energi Global Saat Ini
Strategi Pertamina Bangun Kilang Baru 2030 Demi Tekan Impor BBM dan Stabilkan Pasokan Energi Indonesia
Sidak Mentan Ungkap Data Bibit Tidak Sesuai di Manado, Pengawasan Program Pertanian Diperketat
ICP Tembus 100 Dolar AS, Pemerintah Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik Tahun Ini
Desakan Tersangka Proyek Suralaya PLN Menguat, Dugaan Aliran Dana Dan TPPU Jadi Sorotan Penyidik Kejati DKI
Pastikan Menkeu Purbaya Sehat, Klarifikasi Resmi Kemenkeu Redam Spekulasi Publik dan Jaga Stabilitas Ekonomi
Tiongkok Tolak Sanksi Amerika Serikat Atas Kilang Minyak Iran Picu Ketegangan Energi Global Dunia
Tiongkok Kritik Keras Sanksi Amerika Serikat Pada Kilang Iran, Ancaman Baru Stabilitas Energi Global
Komunikasi Krisis Korporasi Saat Outlook Negatif Mengguncang Kepercayaan Investor dan Stabilitas Pasar Global