• Kamis, 4 Juni 2026

APPRI Rilis Survei Tren Belanja Jasa PR 2026, Ungkap Perubahan Strategi Komunikasi Korporasi Indonesia

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Senin, 4 Mei 2026 | 14:11 WIB
Kiri ke kanan Natalia Widiasari  (Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya), Sari Soegondo (Ketua Umum APPRI), Farida Makhmudah (Plt Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Perhubungan), Indriani Siswati (Deputy Head of Corporate Communications, PT. Merdeka Copper Gold), dan E (Dok. APPRI)
Kiri ke kanan Natalia Widiasari (Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya), Sari Soegondo (Ketua Umum APPRI), Farida Makhmudah (Plt Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Perhubungan), Indriani Siswati (Deputy Head of Corporate Communications, PT. Merdeka Copper Gold), dan E (Dok. APPRI)

Kondisi tersebut memaksa banyak korporasi meninjau ulang alokasi anggaran termasuk belanja komunikasi dan pemasaran.

Efektivitas komunikasi yang sebelumnya berfokus pada awareness kini dipertanyakan karena harus menunjukkan kontribusi terhadap kinerja bisnis.

Baca Juga: Pastikan Menkeu Purbaya Sehat, Klarifikasi Resmi Kemenkeu Redam Spekulasi Publik dan Jaga Stabilitas Ekonomi

Peran PR Bergeser Menjadi Fungsi Strategis Berbasis Data dan Reputasi

Ketua Tim Riset Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Natalia Widiasari, menyebut industri PR tengah memasuki fase transformasi strategis.

Ia menjelaskan perubahan ini dipicu oleh kompleksitas isu, perkembangan algoritma digital, serta kebutuhan pengukuran kinerja berbasis dampak.

Hampir seluruh responden menempatkan manajemen reputasi sebagai kebutuhan utama dalam layanan PR yang mereka gunakan.

Baca Juga: Danantara Masuk Bisnis Ojol Ambil Saham Aplikator, Ini Pengaruhnya Pada Tarif dan Kesejahteraan Driver

Selain itu, kebutuhan terhadap market intelligence dan komunikasi pemasaran terintegrasi juga mengalami peningkatan signifikan.

Namun, tingkat pengukuran kinerja PR masih beragam dengan sebagian korporasi belum melakukan evaluasi secara konsisten.

Preferensi Konsultan Lokal dan Model Kerja Proyek Dominasi Pasar

Hasil studi menunjukkan sekitar 88 persen responden lebih memilih konsultan lokal karena dianggap memahami konteks domestik.

Baca Juga: Desakan Tersangka Proyek Suralaya PLN Menguat, Dugaan Aliran Dana Dan TPPU Jadi Sorotan Penyidik Kejati DKI

Model kerja berbasis proyek mendominasi dengan porsi 67 persen dibandingkan kontrak jangka panjang yang masih terbatas.

Variasi anggaran komunikasi juga cukup lebar dengan sebagian korporasi mengalokasikan kurang dari Rp300 juta per tahun.

Sementara sebagian lainnya menginvestasikan hingga miliaran rupiah tergantung kebutuhan reputasi dan kompleksitas komunikasi.

Baca Juga: Strategi Pertamina Bangun Kilang Baru 2030 Demi Tekan Impor BBM dan Stabilkan Pasokan Energi Indonesia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini