THE BOTTOM LINE:
- Cadangan beras pemerintah mencapai 5,37 juta ton, rekor tertinggi sepanjang sejarah, memperkuat sinyal ketahanan pangan nasional 2026.
- Serapan beras oleh korporasi logistik negara menembus 2,8 juta ton hingga pertengahan Mei, setara 70 persen target tahunan.
- Lonjakan stok beras nasional memberi ruang stabilisasi harga dan memperbesar optimisme pasokan aman hingga akhir tahun.
BISNISNEWS.COM - Apakah lonjakan cadangan beras pemerintah hingga 5,37 juta ton menandai era baru ketahanan pangan nasional?
Mampukah stok tertinggi sepanjang sejarah ini menjaga stabilitas harga beras dan meredam gejolak pasar hingga akhir 2026?
Cadangan Beras Tembus Rekor 5,37 Juta Ton, Sinyal Kuat Ketahanan Pangan Indonesia
Pemerintah mencatat capaian penting dalam penguatan cadangan beras nasional dengan stok pemerintah mencapai 5,37 juta ton per Senin, 18 Mei 2026.
Angka tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dalam rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa (19/05/2026)
Sudaryono menyebut capaian itu sebagai level tertinggi cadangan beras pemerintah sepanjang sejarah Republik Indonesia.
“Cadangan beras sampai dengan 18 Mei mencapai 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia,” ujar Sudaryono.
Pencapaian tersebut menjadi indikator penguatan sistem pangan nasional di tengah tantangan stabilitas harga dan kebutuhan konsumsi domestik.
Peran Strategis Bulog dalam Menyerap Hasil Panen Petani
Menurut Sudaryono, capaian ini tidak lepas dari peran aktif Perum Bulog dalam menyerap beras petani sepanjang tahun berjalan.
Sejak awal Januari hingga 18 Mei 2026, realisasi pengadaan beras dan setara beras telah mencapai 2,8 juta ton.
Jumlah itu setara sekitar 70 persen dari target pengadaan tahunan sebesar 4 juta ton.
Artikel Terkait
Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Apa Risiko Fiskal yang Mengancam Daya Tahan Ekonomi Indonesia
Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Daya Beli, Tekanan Dolar AS Kini Terasa Sampai Pasar Tradisional
Mengapa Rupiah Terus Melemah Menuju Rp18.000? Anthony Budiawan Soroti Defisit Transaksi Berjalan
Rupiah Melemah Ke Rp17.600, Mengapa BITetap Optimistis Soal Stabilitas Nilai Tukar Indonesia Tahun Ini
Rupiah Terus Tertekan, Didik J Rachbini Menilai Reformasi Institusi Jadi Kunci Penguatan Nilai Tukar Indonesia
Rupiah Melemah, Didik J Rachbini Ungkap Pelajaran Era Habibie yang Relevan untuk Memulihkan Kepercayaan Pasar
Kenaikan Dolar AS dan Dampaknya ke Desa, Jaya Suprana Ungkap Fakta Ekonomi yang Jarang Disadari Publik
Fahri Hamzah Respons Kritik The Economist, Prabowonomics Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
ABDI dan PSMTI Cetak Eksekutif Pelindungan Data Pribadi, Siapkah Korporasi Hadapi Tantangan Keamanan Siber
Cadangan Beras Pemerintah Tembus 5,37 Juta Ton, Ini Dampaknya Bagi Ketahanan Pangan Hingga Akhir Tahun