• Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Tembus Rp17.300 Per Dolar AS, IHSG Turun Tajam Picu Kekhawatiran Pelaku Pasar Domestik

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Selasa, 12 Mei 2026 | 18:00 WIB
Analis ekonomi politik pasar saham Kusfiardi menyoroti pasar saham dan nilai tukar Rupiah menjadi perhatian pelaku usaha serta investor di tengah tekanan ekonomi dunia. (Dok. Kreasi Dola AI)
Analis ekonomi politik pasar saham Kusfiardi menyoroti pasar saham dan nilai tukar Rupiah menjadi perhatian pelaku usaha serta investor di tengah tekanan ekonomi dunia. (Dok. Kreasi Dola AI)

THE BOTTOM LINE:

  • IHSG turun di bawah 7.000 dan Rupiah melemah memicu kekhawatiran pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
  • Analis menilai tekanan global dan penguatan Dolar AS memperlihatkan tingginya kerentanan ekonomi domestik nasional.
  • Ketergantungan impor dan modal asing dinilai membuat ekonomi Indonesia mudah terguncang sentimen pasar global.

BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan Rupiah hingga menembus Rp17.300 per Dolar AS menjadi sinyal rapuhnya fondasi ekonomi Indonesia?

Mengapa IHSG yang sempat menyentuh level 7.600 justru terkoreksi tajam dalam waktu singkat dan memicu kekhawatiran investor global?

IHSG Dan Rupiah Melemah Saat Sentimen Global Semakin Meningkat Tajam

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dan nilai tukar Rupiah sepanjang April hingga awal Mei 2026 dinilai menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Mengapa Tiga Tanker Lain Justru Berhasil Keluar Saat Negosiasi

Analis ekonomi politik pasar saham, Kusfiardi, menilai koreksi pasar saham dan pelemahan Rupiah bukan sekadar gejolak teknikal jangka pendek.

Menurut Kusfiardi, kondisi tersebut memperlihatkan investor mulai mempertanyakan ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.

“IHSG sebelumnya lebih banyak ditopang arus modal jangka pendek dan sentimen likuiditas global, bukan penguatan struktural ekonomi domestik,” ujar Kusfiardi, Senin (11/05/2026).

Baca Juga: Bank Mandiri Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Melandai Pada Kuartal II 2026, Apa Dampaknya Bagi Konsumsi

Data perdagangan menunjukkan IHSG sempat berada di level 7.675 pada pertengahan April 2026 sebelum turun hingga 6.956 pada akhir bulan.

Pada Jumat (08/05/2026), IHSG kembali melemah tajam sebesar 2,86 persen hanya dalam satu hari perdagangan.

Sementara itu, Rupiah bergerak dari kisaran Rp16.900 per Dolar AS pada awal April menjadi di atas Rp17.300 pada awal Mei 2026.

Baca Juga: BEI Awasi Dugaan Fraud TLKM Rp5 Triliun, Investigasi SEC dan DOJ Picu Sorotan Baru Terhadap Tata Kelola

Ketergantungan Impor dan Dolar Dinilai Masih Membebani Perekonomian Nasional

Kusfiardi menilai ekonomi Indonesia masih sangat sensitif terhadap penguatan Dolar AS dan arus keluar modal asing dari pasar berkembang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini