THE BOTTOM LINE:
- JP Morgan dan ADB menilai ketahanan ekonomi Indonesia masuk kelompok terbaik menghadapi krisis global tahun 2026.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah kondisi ekonomi Indonesia saat ini mirip krisis moneter 1998.
- Pemerintah memastikan ekonomi nasional masih ekspansi dan akselerasi meski dunia menghadapi tekanan energi serta perlambatan global.
BISNISNEWS.COM - Mengapa Indonesia disebut lebih tahan krisis dibanding Amerika dan Tiongkok?
Benarkah kondisi ekonomi nasional saat ini jauh berbeda dibanding krisis 1998 yang pernah mengguncang jutaan masyarakat?.
Ketahanan Ekonomi Indonesia Dinilai Lebih Kuat Dibanding Negara Besar
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Indonesia masuk kelompok negara paling tangguh menghadapi krisis global menurut analisis JP Morgan dan Asian Development Bank (ADB)
Baca Juga: Muhammadiyah Terapkan Budaya Hidup Hemat, Penggunaan Mobil Diesel dan AC Mulai Dibatasi Bertahap
Menurut Purbaya, analisis JP Morgan menempatkan Indonesia pada posisi kedua terkuat menghadapi tekanan ekonomi global dibanding sejumlah negara besar dunia.
Ia menyebut posisi Indonesia bahkan berada di atas Amerika Serikat, Tiongkok, dan Australia berdasarkan penilaian lembaga keuangan internasional tersebut.
“Walau krisis global kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain,” ujar Purbaya dalam keterangannya kepada media di Jakarta.
Baca Juga: Pembiayaan Produktif Pindar Tembus Rp34,66 Triliun, OJK Soroti Risiko Gagal Bayar Pinjaman Kaum Muda
Pemerintah Menepis Kekhawatiran Krisis Ekonomi Seperti Tahun 1998 Kembali
Purbaya membantah pandangan pesimistis yang menyamakan kondisi ekonomi sekarang dengan krisis moneter 1998 yang memicu resesi panjang dan gejolak politik nasional.
Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam fase ekspansi sehingga berbeda jauh dibanding situasi menjelang krisis 1998.
Ia mengatakan ekonomi nasional belum memasuki fase resesi, bahkan masih menunjukkan percepatan aktivitas ekonomi di tengah tekanan global dan krisis energi internasional.
Baca Juga: Saat Audiens Menjawab Tidak, Mengapa Komunikasi Pemimpin Langsung Jadi Sorotan Viral Media Sosial
“Mereka prediksi 98 akan terjadi lagi, padahal sekarang masih ekspansi dan akselerasi,” kata Purbaya dalam forum APBN KiTA tersebut.
Artikel Terkait
Kabel Laut Pukpuk Diresmikan, Papua Diproyeksikan Jadi Gerbang Konektivitas Digital Kawasan Asia Pasifik
Vonis Bebas Kasus Kredit PT Sritex Bikin Kejagung Pelajari Langkah Hukum Berikutnya Secara Mendalam
Danantara Fokus Integrasi Digital BUMN dan Pengembangan Sovereign AI Nasional untuk Efisiensi
OJK Panggil Pemegang Saham KoinP2P Usai Penahanan Pengurus, Bagaimana Nasib Dana Lender dan Operasional
Bank BJB Gandeng PT Taspen Percepat Layanan Pembayaran Pensiun Digital Lebih Aman dan Praktis
Mengapa Kesalahan Panggung Tokoh Nasional Kini Lebih Berbahaya di Era Video Pendek dan Media Sosial
Dividen PT Delta Djakarta Disorot, CBA Pertanyakan Transparansi Aliran Dana ke Kas Pemerintah DKI Jakarta
Saat Audiens Menjawab Tidak, Mengapa Komunikasi Pemimpin Langsung Jadi Sorotan Viral Media Sosial
Pembiayaan Produktif Pindar Tembus Rp34,66 Triliun, OJK Soroti Risiko Gagal Bayar Pinjaman Kaum Muda
Muhammadiyah Terapkan Budaya Hidup Hemat, Penggunaan Mobil Diesel dan AC Mulai Dibatasi Bertahap