THE BOTTOM LINE:
- Pemerintah menargetkan rupiah Rp16.800-Rp17.500 pada 2027 sebagai pijakan stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan kurs global.
- Defisit APBN 2027 dipatok 1,80-2,40 persen PDB untuk menjaga disiplin fiskal dan memperkuat kepercayaan pasar domestik.
- Target pertumbuhan ekonomi 5,8-6,5 persen disiapkan sebagai landasan menuju ambisi pertumbuhan nasional 8 persen pada 2029.
BISNISNEWS.COM - Mampukah rupiah kembali stabil setelah sempat menembus rekor terlemah sepanjang sejarah?
Bisakah target kurs Rp16.800 - Rp17.500 pada 2027 menjadi sinyal kuat arah pemulihan ekonomi nasional?
Pemerintah Patok Rupiah Rp16.800 - Rp17.500 di 2027, Sinyal Strategi Stabilitas Ekonomi Mulai Dipertegas
Pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per Dolar AS dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027.
Target itu disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Rabu (20/5/2026), sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi.
Menurut Presiden, arah kebijakan fiskal dan moneter harus dirancang terukur agar mampu menjaga ketahanan rupiah menghadapi tekanan global.
Baca Juga: Ekspor Indonesia Tembus Rp1 Triliun di SIAL 2026, Mengapa Pasar Tiongkok Kini Memburu Produk Pangan
“Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia,” kata Presiden Prabowo Subianto.
Latar belakang kebijakan ini tidak lepas dari tekanan kurs yang pada pertengahan Mei 2026 sempat menyentuh Rp17.706 per Dolar AS di pasar spot.
Kondisi tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian pelaku pasar dan otoritas moneter karena berpotensi memengaruhi inflasi serta biaya impor nasional.
Defisit Anggaran Ditekan untuk Jaga Kepercayaan Pasar
Dalam dokumen KEM-PPKF 2027, pemerintah menetapkan defisit APBN pada kisaran 1,80 hingga 2,40 persen terhadap produk domestik bruto.
Artikel Terkait
Rupiah Terus Tertekan, Didik J Rachbini Menilai Reformasi Institusi Jadi Kunci Penguatan Nilai Tukar Indonesia
Rupiah Melemah, Didik J Rachbini Ungkap Pelajaran Era Habibie yang Relevan untuk Memulihkan Kepercayaan Pasar
Kenaikan Dolar AS dan Dampaknya ke Desa, Jaya Suprana Ungkap Fakta Ekonomi yang Jarang Disadari Publik
Fahri Hamzah Respons Kritik The Economist, Prabowonomics Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
ABDI dan PSMTI Cetak Eksekutif Pelindungan Data Pribadi, Siapkah Korporasi Hadapi Tantangan Keamanan Siber
Cadangan Beras Pemerintah Tembus 5,37 Juta Ton, Ini Dampaknya Bagi Ketahanan Pangan Hingga Akhir Tahun
Rupiah Tembus Rp17.706, Lonjakan Permintaan Dolar AS Kini Jadi Sorotan Serius Pemerintah dan Pelaku Pasar
PSMTI Gandeng HMI Malaysia Group, Akses Layanan Kesehatan Internasional Kini Lebih Mudah dan Terjangkau
Ekspor Indonesia Tembus Rp1 Triliun di SIAL 2026, Mengapa Pasar Tiongkok Kini Memburu Produk Pangan
BI Perketat Pembelian Dolar Tanpa Underlying, Apakah Rupiah Menguat Mulai Juli 2026 Setelah Tekanan Global Mereda