• Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Tembus Rp17.706, Lonjakan Permintaan Dolar AS Kini Jadi Sorotan Serius Pemerintah dan Pelaku Pasar

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Rabu, 20 Mei 2026 | 11:41 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan faktor pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.706 per Dolar AS di tengah lonjakan permintaan valuta asing. (Facebook.com @Airlangga Hartarto)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan faktor pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.706 per Dolar AS di tengah lonjakan permintaan valuta asing. (Facebook.com @Airlangga Hartarto)

THE BOTTOM LINE:

  • Permintaan Dolar AS melonjak akibat musim dividen korporasi, mendorong rupiah melemah hingga menembus level Rp17.706 per Dolar AS.
  • Kenaikan harga minyak dunia di atas 100 Dolar AS per barel memperbesar tekanan eksternal terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
  • Pemerintah optimistis semester II menjadi momentum pemulihan kurs rupiah seiring meredanya tekanan global dan musiman.

BISNISNEWS.COM - Akankah tekanan permintaan dolar AS terus menyeret rupiah hingga menembus level psikologis baru?

Mampukah semester II menjadi titik balik penguatan rupiah saat tekanan global dan lonjakan harga minyak belum sepenuhnya reda?

Rupiah Tembus Rp17.700, Lonjakan Permintaan Dolar AS Jadi Sorotan Pemerintah

Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus Rp17.700 per Dolar AS pada perdagangan Selasa, memicu perhatian pelaku pasar dan otoritas ekonomi nasional.

Baca Juga: Cadangan Beras Pemerintah Tembus 5,37 Juta Ton, Ini Dampaknya Bagi Ketahanan Pangan Hingga Akhir Tahun

Pelemahan ini terjadi ketika permintaan valuta asing meningkat tajam pada periode pembayaran dividen korporasi usai musim laporan keuangan tahunan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan tekanan rupiah saat ini dipengaruhi faktor eksternal yang cukup dominan.

“Faktor global sangat mempengaruhi, dan selama bulan ibadah haji permintaan terhadap dolar juga tinggi,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa.

Baca Juga: ABDI dan PSMTI Cetak Eksekutif Pelindungan Data Pribadi, Siapkah Korporasi Hadapi Tantangan Keamanan Siber

Ia menjelaskan kebutuhan Dolar AS meningkat karena kewajiban pembayaran dividen sejumlah korporasi kepada investor asing pada periode saat ini.

Kondisi tersebut, menurut Airlangga, diperkuat kenaikan harga minyak global akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda.

Latar belakang tekanan serupa sebelumnya juga muncul ketika volatilitas global meningkat akibat ketidakpastian suku bunga bank sentral utama dunia.

Baca Juga: Fahri Hamzah Respons Kritik The Economist, Prabowonomics Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

Musim Dividen Korporasi Jadi Pemicu Permintaan Valuta Asing

Airlangga menyebut musim pembagian dividen rutin mendorong kebutuhan Dolar AS dalam jumlah besar oleh korporasi domestik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini