THE BOTTOM LINE:
- Permintaan Dolar AS melonjak akibat musim dividen korporasi, mendorong rupiah melemah hingga menembus level Rp17.706 per Dolar AS.
- Kenaikan harga minyak dunia di atas 100 Dolar AS per barel memperbesar tekanan eksternal terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
- Pemerintah optimistis semester II menjadi momentum pemulihan kurs rupiah seiring meredanya tekanan global dan musiman.
BISNISNEWS.COM - Akankah tekanan permintaan dolar AS terus menyeret rupiah hingga menembus level psikologis baru?
Mampukah semester II menjadi titik balik penguatan rupiah saat tekanan global dan lonjakan harga minyak belum sepenuhnya reda?
Rupiah Tembus Rp17.700, Lonjakan Permintaan Dolar AS Jadi Sorotan Pemerintah
Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus Rp17.700 per Dolar AS pada perdagangan Selasa, memicu perhatian pelaku pasar dan otoritas ekonomi nasional.
Pelemahan ini terjadi ketika permintaan valuta asing meningkat tajam pada periode pembayaran dividen korporasi usai musim laporan keuangan tahunan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan tekanan rupiah saat ini dipengaruhi faktor eksternal yang cukup dominan.
“Faktor global sangat mempengaruhi, dan selama bulan ibadah haji permintaan terhadap dolar juga tinggi,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan kebutuhan Dolar AS meningkat karena kewajiban pembayaran dividen sejumlah korporasi kepada investor asing pada periode saat ini.
Kondisi tersebut, menurut Airlangga, diperkuat kenaikan harga minyak global akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda.
Latar belakang tekanan serupa sebelumnya juga muncul ketika volatilitas global meningkat akibat ketidakpastian suku bunga bank sentral utama dunia.
Musim Dividen Korporasi Jadi Pemicu Permintaan Valuta Asing
Airlangga menyebut musim pembagian dividen rutin mendorong kebutuhan Dolar AS dalam jumlah besar oleh korporasi domestik.
Artikel Terkait
Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Apa Risiko Fiskal yang Mengancam Daya Tahan Ekonomi Indonesia
Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Daya Beli, Tekanan Dolar AS Kini Terasa Sampai Pasar Tradisional
Mengapa Rupiah Terus Melemah Menuju Rp18.000? Anthony Budiawan Soroti Defisit Transaksi Berjalan
Rupiah Melemah Ke Rp17.600, Mengapa BITetap Optimistis Soal Stabilitas Nilai Tukar Indonesia Tahun Ini
Rupiah Terus Tertekan, Didik J Rachbini Menilai Reformasi Institusi Jadi Kunci Penguatan Nilai Tukar Indonesia
Rupiah Melemah, Didik J Rachbini Ungkap Pelajaran Era Habibie yang Relevan untuk Memulihkan Kepercayaan Pasar
Kenaikan Dolar AS dan Dampaknya ke Desa, Jaya Suprana Ungkap Fakta Ekonomi yang Jarang Disadari Publik
Fahri Hamzah Respons Kritik The Economist, Prabowonomics Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
ABDI dan PSMTI Cetak Eksekutif Pelindungan Data Pribadi, Siapkah Korporasi Hadapi Tantangan Keamanan Siber
Cadangan Beras Pemerintah Tembus 5,37 Juta Ton, Ini Dampaknya Bagi Ketahanan Pangan Hingga Akhir Tahun