THE BOTTOM LINE:
- Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah dipicu faktor global, permintaan valas musiman, dan penguatan dolar di pasar internasional
- Stabilitas ekonomi Indonesia kini bergantung pada intervensi moneter, sentimen investor, dan arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat
- Rupiah tembus Rp17.500 per Dolar AS, namun pemerintah memastikan APBN tetap aman di tengah tekanan eksternal global
BISNISNEWS.COM - Mengapa rupiah terus tertekan hingga menembus Rp17.500 per Dolar AS saat fundamental ekonomi disebut tetap kuat?
Benarkah APBN Indonesia masih aman ketika kurs melemah dan tekanan pasar global belum mereda?
Tekanan Global Membuat Rupiah Kembali Cetak Rekor Baru
Nilai tukar rupiah kembali mencatat tekanan tajam setelah menembus level Rp17.500 per Dolar AS pada perdagangan Selasa, memicu perhatian pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Level ini menjadi pelemahan terdalam dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menghidupkan kembali kekhawatiran seperti yang sempat mencuat dalam pemberitaan sebelumnya saat volatilitas global meningkat.
Namun pemerintah dan otoritas moneter menegaskan situasi saat ini berbeda dibanding tekanan kurs pada periode krisis sebelumnya karena indikator makro ekonomi nasional masih terjaga.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan APBN tetap aman meski kurs rupiah mengalami pelemahan di atas asumsi makro fiskal.
Baca Juga: Transformasi TLKM 30 Dorong Kinerja Telkom 2025, Mengapa Return Pemegang Saham Justru Melonjak
Menurut Purbaya, struktur fiskal Indonesia telah dirancang dengan fleksibilitas menghadapi dinamika eksternal yang berkembang cepat.
Pernyataan itu menjadi sinyal penting di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter nasional.
Bank Indonesia Menilai Pelemahan Dipicu Faktor Eksternal Musiman
Bank Indonesia (BI) menjelaskan pelemahan rupiah lebih banyak dipicu kombinasi tekanan global dan kebutuhan valas musiman yang meningkat dalam waktu bersamaan.
Baca Juga: Dolar AS Sentuh Rp17.503, Apa Dampaknya Bagi Rupiah dan Seberapa Besar Risiko Gejolak Selat Hormuz
Permintaan valuta asing naik seiring pembayaran dividen korporasi, kebutuhan impor energi, dan transaksi musiman lain yang menekan pasar domestik.
Artikel Terkait
Purbaya Ungkap Royalti Minerba Berpotensi Naik, Pengusaha Tambang Tunggu Keputusan Final Pemerintah
Dugaan Fraud Telkom Rp5 Triliun Diselidiki Regulator AS, Apa Dampaknya Bagi Saham TLKM dan Investor
Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Melambat Pada Kuartal II 2026, Bank Mandiri Ungkap Penyebab Utamanya
Negosiasi Dua Kapal Pertamina di Selat Hormuz Berlanjut, Tiga Tanker Lolos Diam-Diam Picu Sorotan Jalur Energi Dunia
IHSG Anjlok dan Rupiah Melemah, Investor Mulai Soroti Ketahanan Ekonomi Menghadapi Tekanan Global
Rupiah Tembus Rp17.300 Per Dolar AS, IHSG Turun Tajam Picu Kekhawatiran Pelaku Pasar Domestik
Dolar AS Sentuh Rp17.503, Apa Dampaknya Bagi Rupiah dan Seberapa Besar Risiko Gejolak Selat Hormuz
Transformasi TLKM 30 Dorong Kinerja Telkom 2025, Mengapa Return Pemegang Saham Justru Melonjak
Rupiah Tembus Rp17.529, Purbaya Rapat Mendadak di Kemenkeu Siapkan Strategi Jaga Stabilitas Nilai Tukar
Rupiah Tembus Rp17.500, Mengapa Pemerintah Tetap Yakin APBN Aman di Tengah Tekanan Dolar AS Global