Namun pelemahan berkepanjangan tetap berpotensi meningkatkan tekanan biaya impor, khususnya energi dan bahan baku industri.
Jika berlangsung lama, tekanan ini dapat mendorong inflasi serta menekan daya beli masyarakat produktif.
Purbaya menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan pasar dan menyiapkan langkah antisipatif bila tekanan eksternal berlanjut.
Baca Juga: IHSG Anjlok dan Rupiah Melemah, Investor Mulai Soroti Ketahanan Ekonomi Menghadapi Tekanan Global
Koordinasi fiskal dan moneter dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas makro nasional.
Dalam jangka pendek, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global dan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Pada akhirnya, level Rp17.500 bukan sekadar angka psikologis, melainkan pengingat bahwa stabilitas ekonomi membutuhkan respons cepat, kredibel, dan terkoordinasi dari seluruh otoritas.****
Artikel Terkait
Purbaya Ungkap Royalti Minerba Berpotensi Naik, Pengusaha Tambang Tunggu Keputusan Final Pemerintah
Dugaan Fraud Telkom Rp5 Triliun Diselidiki Regulator AS, Apa Dampaknya Bagi Saham TLKM dan Investor
Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Melambat Pada Kuartal II 2026, Bank Mandiri Ungkap Penyebab Utamanya
Negosiasi Dua Kapal Pertamina di Selat Hormuz Berlanjut, Tiga Tanker Lolos Diam-Diam Picu Sorotan Jalur Energi Dunia
IHSG Anjlok dan Rupiah Melemah, Investor Mulai Soroti Ketahanan Ekonomi Menghadapi Tekanan Global
Rupiah Tembus Rp17.300 Per Dolar AS, IHSG Turun Tajam Picu Kekhawatiran Pelaku Pasar Domestik
Dolar AS Sentuh Rp17.503, Apa Dampaknya Bagi Rupiah dan Seberapa Besar Risiko Gejolak Selat Hormuz
Transformasi TLKM 30 Dorong Kinerja Telkom 2025, Mengapa Return Pemegang Saham Justru Melonjak
Rupiah Tembus Rp17.529, Purbaya Rapat Mendadak di Kemenkeu Siapkan Strategi Jaga Stabilitas Nilai Tukar
Rupiah Tembus Rp17.500, Mengapa Pemerintah Tetap Yakin APBN Aman di Tengah Tekanan Dolar AS Global