• Kamis, 4 Juni 2026

INDEF Soroti Tantangan Besar Indonesia Kejar Target SDGs Lingkungan Jelang Pembangunan Berkelanjutan 2030

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Kamis, 7 Mei 2026 | 12:11 WIB
Peneliti INDEF Annisa Utami Kusumanegara menyoroti lemahnya integrasi SDGs dalam dokumen pembangunan nasional dan pemerintah daerah Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)
Peneliti INDEF Annisa Utami Kusumanegara menyoroti lemahnya integrasi SDGs dalam dokumen pembangunan nasional dan pemerintah daerah Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)

THE BOTTOM LINE:

  • Indonesia masih menghadapi tantangan besar mencapai target SDGs lingkungan menjelang tenggat 2030 mendatang.
  • INDEF menilai lemahnya political will membuat implementasi SDGs sering sebatas pelabelan program administratif pembangunan.
  • Persoalan sampah plastik, kualitas udara, sanitasi, dan ekosistem dinilai masih menjadi pekerjaan rumah utama nasional.

BISNISNEWS.COM - Apakah Indonesia benar-benar siap mencapai target SDGs lingkungan pada 2030 mendatang?

Mengapa persoalan sampah plastik, kualitas udara, dan sanitasi masih menjadi ancaman serius pembangunan berkelanjutan nasional?

INDEF Soroti Ancaman Gagalnya Target SDGs Lingkungan Indonesia Menuju 2030

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) pilar lingkungan menjelang 2030.

Baca Juga: Indonesia Siapkan Panda Bond di Tiongkok Saat Ketergantungan Dolar AS Global Mulai Dipertanyakan Investor

Sorotan tersebut mengemuka dalam podcast What’s on Economy INDEF bersama Peneliti Center of Food and Energy Sustainable Development (FESD) INDEF, Annisa Utami Kusumanegara.

Indonesia saat ini berada di peringkat 77 dari 167 negara dalam pencapaian SDGs global, meski beberapa indikator lingkungan masih stagnan.

Political Will Pemerintah Dinilai Masih Lemah dalam Implementasi SDGs Nasional

Annisa Utami Kusumanegara, Peneliti FESD INDEF, mengatakan tantangan utama pencapaian SDGs bukan hanya soal pendanaan dan teknologi.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.400, Dosen UGM Ungkap Faktor Global dan Risiko Besar Ekonomi Indonesia Saat Ini

Menurutnya, kemauan politik pemerintah pusat maupun daerah masih menjadi hambatan besar integrasi SDGs dalam kebijakan pembangunan nasional.

“Ketika political will-nya tidak ada, maka SDGs hanya menjadi label administratif,” ujar Annisa dalam podcast tersebut.

Ia menilai banyak program pembangunan masih menjadikan SDGs sekadar penanda dokumen administratif, bukan target pembangunan utama yang dijalankan serius.

Baca Juga: Rupiah Bergantung Modal Asing, Mengapa Defisit Transaksi Berjalan Terus Tekan Nilai Tukar Indonesia Hingga Kini

Padahal, SDGs mencakup 17 tujuan dan 169 target global yang meliputi lingkungan, sosial, tata kelola, hingga hukum internasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini