THE BOTTOM LINE:
- Ketergantungan rupiah pada aliran modal asing tinggi sejak defisit transaksi berjalan berlanjut, membuat stabilitas nilai tukar rentan gejolak global.
- Utang luar negeri digunakan untuk menutup defisit eksternal sekaligus menopang cadangan devisa demi menjaga kurs rupiah tetap stabil.
- Penguatan rupiah dinilai belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi karena didorong pembiayaan eksternal yang bersifat jangka pendek
BISNISNEWS.COM - Apakah penguatan rupiah selama ini benar-benar mencerminkan kekuatan ekonomi nasional yang solid?
Ataukah ada “mesin tersembunyi” berupa utang luar negeri yang menopang stabilitas nilai tukar?
Mengapa setiap gejolak global langsung mengguncang rupiah, dan seberapa besar ketergantungan Indonesia terhadap aliran dana asing dalam menjaga stabilitas ekonomi?
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Naik Tajam Triwulan I 2026, Apa Dampaknya Bagi Dunia Usaha
Defisit Transaksi Berjalan Tekan Rupiah Dan Ketergantungan Asing
Neraca transaksi berjalan Indonesia tercatat mengalami defisit sejak 2012, yang mencerminkan arus keluar Dolar AS lebih besar dibandingkan pemasukan dari ekspor dan transaksi lainnya.
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menyebut kondisi ini meningkatkan permintaan Dolar AS sehingga kurs rupiah cenderung melemah secara struktural.
Ia menegaskan bahwa tanpa dukungan arus modal masuk yang memadai, tekanan terhadap rupiah akan semakin besar dan berpotensi memicu volatilitas berkepanjangan.
Menurut Anthony Budiawan, aliran modal asing baik berupa investasi langsung maupun portofolio menjadi penopang utama untuk menutup defisit tersebut.
Namun, ketergantungan terhadap modal asing dinilai membuat stabilitas rupiah menjadi rentan terhadap perubahan sentimen global dan keputusan investor internasional.
Lonjakan Utang Luar Negeri Jadi Penopang Cadangan Devisa
Data periode 2015–2019 menunjukkan defisit transaksi berjalan mencapai 111,71 miliar Dolar AS, namun cadangan devisa justru meningkat 17,32 miliar Dolar AS.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Tertinggi Lima Tahun Apa Faktor Utamanya
Anthony Budiawan menjelaskan peningkatan cadangan devisa tersebut sebagian besar ditopang oleh penambahan utang luar negeri pemerintah sebesar 76,07 miliar Dolar AS.
Artikel Terkait
Teknologi Baru Tiongkok Berpotensi Ubah Peta Kekuatan Digital Dunia dan Tekan Dominasi Amerika Serikat
Bali Menuju Pusat Keuangan Baru, Pemerintah Siapkan Insentif Fiskal untuk Tingkatkan Daya Saing Nasional
KEK Bali Fokus Sektor Keuangan, Insentif Fiskal Disiapkan Dongkrak Daya Saing Ekonomi Nasional Indonesia
Rencana KEK Keuangan Bali Menguat, Insentif Fiskal Jadi Faktor Penentu Minat Investor Global Masuk Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Naik Tajam Triwulan I 2026, Apa Dampaknya Bagi Dunia Usaha
Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen, Ini Faktor Utama dan Risiko yang Perlu Diwaspadai
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Tertinggi Lima Tahun Apa Faktor Utamanya
Rupiah Tertekan, Ini 7 Strategi Bank Indonesia Yang Direstui Presiden untuk Stabilkan Nilai Tukar Nasional
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen Namun Rupiah Melemah Tajam Picu Kekhawatiran Stabilitas
Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh Stabil Didukung Investasi Ekspor dan Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat