THE BOTTOM LINE:
- Rupiah melemah di atas Rp17.400 dipicu faktor global dan fundamental ekonomi domestik yang masih menghadapi tekanan pasar.
- Dosen FEB UGM menilai kepercayaan investor dan stabilitas kebijakan menjadi kunci menjaga nilai tukar rupiah tetap terkendali.
- Suku bunga tinggi Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak dunia memperbesar arus keluar modal asing dari Indonesia.
BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.400 per Dolar AS hanya dipicu faktor global semata?
Mengapa kepercayaan investor kini menjadi kunci penting untuk mencegah tekanan lanjutan pada pasar keuangan nasional?
Tekanan Rupiah Menguat Dipicu Faktor Global dan Fundamental Domestik Melemah
Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS menembus level Rp17.400 pada Selasa (5/5/2026), memicu kekhawatiran pelaku pasar dan investor domestik.
Pelemahan ini tidak hanya dipengaruhi dinamika global, tetapi juga mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional yang menghadapi tekanan.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin, Ph.D., CFP, menegaskan kombinasi faktor ekonomi dan nonekonomi menjadi penyebab utama depresiasi rupiah.
Ia menjelaskan surplus neraca perdagangan masih terjadi, namun nilainya menurun dibandingkan periode sebelumnya sehingga tekanan terhadap nilai tukar meningkat.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Naik Tajam Triwulan I 2026, Apa Dampaknya Bagi Dunia Usaha
Penurunan surplus tersebut menunjukkan ekspor tetap lebih tinggi dari impor, tetapi selisihnya semakin menyempit dalam beberapa waktu terakhir.
Harga Minyak Dunia dan Suku Bunga The Fed Tekan Rupiah
Kenaikan harga minyak dunia turut memperburuk tekanan terhadap rupiah karena Indonesia masih berstatus net importir energi.
Kondisi ini menyebabkan kebutuhan Dolar AS meningkat untuk membayar impor minyak, sehingga memperlemah posisi mata uang domestik.
Di sisi global, suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat investor global cenderung memindahkan modal ke instrumen yang lebih aman.
Artikel Terkait
Teknologi Baru Tiongkok Berpotensi Ubah Peta Kekuatan Digital Dunia dan Tekan Dominasi Amerika Serikat
Bali Menuju Pusat Keuangan Baru, Pemerintah Siapkan Insentif Fiskal untuk Tingkatkan Daya Saing Nasional
KEK Bali Fokus Sektor Keuangan, Insentif Fiskal Disiapkan Dongkrak Daya Saing Ekonomi Nasional Indonesia
Rencana KEK Keuangan Bali Menguat, Insentif Fiskal Jadi Faktor Penentu Minat Investor Global Masuk Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Naik Tajam Triwulan I 2026, Apa Dampaknya Bagi Dunia Usaha
Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen, Ini Faktor Utama dan Risiko yang Perlu Diwaspadai
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Tertinggi Lima Tahun Apa Faktor Utamanya
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen Namun Rupiah Melemah Tajam Picu Kekhawatiran Stabilitas
Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh Stabil Didukung Investasi Ekspor dan Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat
Rupiah Bergantung Modal Asing, Mengapa Defisit Transaksi Berjalan Terus Tekan Nilai Tukar Indonesia Hingga Kini