• Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Tembus Rp17.400, Dosen UGM Ungkap Faktor Global dan Risiko Besar Ekonomi Indonesia Saat Ini

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Kamis, 7 Mei 2026 | 09:21 WIB
 Dosen FEB UGM Eddy Junarsin. meminta pemerintah menjaga komunikasi kebijakan demi mempertahankan kepercayaan publik dan investor nasional. (Dok. Kreasi Dola AI)
Dosen FEB UGM Eddy Junarsin. meminta pemerintah menjaga komunikasi kebijakan demi mempertahankan kepercayaan publik dan investor nasional. (Dok. Kreasi Dola AI)

“Arus modal asing di saat seperti ini tentu akan mengalir ke tempat yang lebih aman, dalam konteks pasar keuangan contohnya adalah Amerika Serikat,” ujar Eddy.

Fenomena ini memperkuat tekanan keluar modal asing dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh Stabil Didukung Investasi Ekspor dan Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat

Pelemahan Rupiah Bisa Untungkan Ekspor Namun Tekan Industri Impor

Eddy menjelaskan pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi perekonomian nasional.

Produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga meningkatkan daya saing ekspor dan membuka peluang lapangan kerja baru.

Selain itu, biaya produksi yang lebih rendah menarik minat investor asing untuk menanamkan modal langsung atau foreign direct investment.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen Namun Rupiah Melemah Tajam Picu Kekhawatiran Stabilitas

Namun, sektor yang bergantung pada impor seperti energi, pangan, serta mesin dan alat berat menghadapi kenaikan biaya produksi signifikan.

“Industri yang bergantung pada impor akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal,” ungkap Eddy.

Dilema Kebijakan Bank Indonesia Antara Inflasi Dan Pertumbuhan

Dalam menghadapi tekanan rupiah, Bank Indonesia berada dalam posisi sulit menentukan arah kebijakan suku bunga.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen, Ini Faktor Utama dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

Penurunan suku bunga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi berpotensi meningkatkan inflasi akibat bertambahnya jumlah uang beredar.

Sebaliknya, kenaikan suku bunga dapat menekan inflasi, namun berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pengangguran.

“Kalau terus menurunkan policy rate, pertumbuhan ekonomi diharapkan lebih tinggi, namun bahayanya inflasi dapat melonjak,” jelas Eddy.

Baca Juga: Rencana KEK Keuangan Bali Menguat, Insentif Fiskal Jadi Faktor Penentu Minat Investor Global Masuk Indonesia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini