THE BOTTOM LINE:
- Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 ditargetkan 5,7 persen, pemerintah optimistis dengan ruang dorongan kebijakan fiskal yang masih terbuka.
- Kenaikan harga komoditas tidak otomatis menekan ekonomi, namun bergantung pada skala dampak terhadap aktivitas dan konsumsi masyarakat.
- Pemerintah siapkan stimulus dan percepatan belanja negara untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap stabil
BISNISNEWS.COM - Apakah target pertumbuhan ekonomi 5,7 persen realistis di tengah tekanan harga komoditas global?
Mampukah stimulus fiskal pemerintah menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong momentum ekonomi kuartal II-2026?
Target Pertumbuhan Ekonomi Nasional Kuartal Dua Dinilai Masih Realistis Tahun Ini
Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,7 persen di tengah dinamika harga komoditas global yang fluktuatif.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme tersebut dengan menekankan bahwa ruang dorongan ekonomi masih terbuka hingga akhir Juni 2026.
Ia menegaskan bahwa perkembangan data April hingga Juni akan menjadi penentu arah kebijakan lanjutan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Purbaya, pemerintah akan terus memantau indikator ekonomi secara berkala untuk memastikan target pertumbuhan tetap berada pada jalur yang diharapkan.
Kenaikan Harga Komoditas Global Jadi Faktor Risiko Ekonomi Domestik
Kenaikan harga komoditas global dinilai tidak otomatis memperlambat pertumbuhan ekonomi, namun dampaknya bergantung pada skala dan distribusi pengaruhnya terhadap masyarakat.
Purbaya menyoroti bahwa lonjakan harga minyak kelapa sawit atau CPO menjadi salah satu risiko yang perlu diantisipasi secara serius oleh pemerintah.
Ia menyatakan akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk menekan dampak negatif kenaikan harga tersebut terhadap ekonomi nasional.
Baca Juga: Pemerintah Bantah Isu Kas Negara Rp120 Triliun, Saldo Anggaran Lebih Capai Rp420 Triliun Tetap Aman
Menurutnya, stabilitas harga komoditas strategis menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara ekspor dan daya beli domestik.
Pemerintah Siapkan Stimulus Fiskal Jika Pertumbuhan Ekonomi Melambat
Pemerintah membuka peluang pemberian stimulus fiskal apabila terjadi perlambatan ekonomi yang signifikan pada kuartal II-2026.
Artikel Terkait
Realisasi Investasi Hilirisasi 2026 Naik 8,2 Persen, Pemerataan Ekonomi Luar Jawa Semakin Terlihat Signifikan
Sengketa CMNP Vs MNC Asia Holding Berakhir, Hakim Nyatakan Perbuatan Melawan Hukum dalam Transaksi Lama
Uya Kuya Gelar Sayembara Rp1 Juta Bongkar Pelaku Hoaks 750 Dapur MBG, Ini Alasan Lengkapnya
Hoaks 750 Dapur MBG Seret Nama Uya Kuya, Sayembara Diluncurkan Bantu Polisi Ungkap Pelaku
MNC Group Ajukan Banding Usai Putusan Rp531,5 Miliar dalam Gugatan CMNP Jadi Sorotan Publik Luas
Klarifikasi BGN Soal 19.000 Sapi Program Makan Bergizi Gratis dan Dampaknya Terhadap Stabilitas Harga Pangan
Pemerintah Bantah Isu Kas Negara Rp120 Triliun, Saldo Anggaran Lebih Capai Rp420 Triliun Tetap Aman
Likuiditas Valas Perbankan Masih Aman, OJK Pastikan Kebutuhan Nasabah Terpenuhi Tanpa Risiko Nilai Tukar
Pemerintah Buka 116 Blok Migas Baru, Strategi Kejar Target Produksi Minyak Nasional 2026 Lebih Agresif
Target Pertumbuhan Ekonomi 5,7 Persen Kuartal II-2026, Pemerintah Siapkan Stimulus Hadapi Tekanan Harga Komoditas