THE BOTTOM LINE:
- Kemenkeu mengantongi 10 nama korporasi sawit yang diduga memanipulasi harga ekspor CPO melalui transfer pricing lintas negara.
- Dugaan transfer pricing ekspor CPO memicu investigasi lintas lembaga terhadap korporasi sawit dan aliran keuntungan luar negeri.
- Pemerintah menelusuri dugaan manipulasi harga ekspor CPO yang melibatkan transaksi afiliasi lintas yurisdiksi internasional.
BISNISNEWS.COM - Apakah dugaan manipulasi harga ekspor CPO hanya persoalan administrasi perdagangan biasa atau pintu masuk membongkar praktik transfer pricing raksasa?
Mengapa pemerintah mulai menyoroti aliran keuntungan sawit menuju Singapura ketika industri ini menjadi tulang punggung ekspor nasional?
Kemenkeu Selidiki Dugaan Transfer Pricing Ekspor CPO Nasional
Pemerintah mulai memperluas penyelidikan dugaan manipulasi harga ekspor CPO yang melibatkan sejumlah korporasi sawit nasional.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut pemerintah telah mengantongi 10 nama eksportir sawit.
Informasi tersebut muncul ketika isu transfer pricing dan pengalihan laba ekspor sawit menuju Singapura menjadi perhatian publik nasional.
“Kami sudah kantongi nama-namanya,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangannya yang dikutip sejumlah media nasional, Rabu, 28/05/2026.
Sejumlah perusahaan yang dikabarkan sedang diselidiki Kemenkeu itu di antaranya adalah:
PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Multimas Nabati Asahan hingga PT Energi Unggul Persada yang tergabung ke dalam grup usaha Wilmar.
PT Kutai Refinery Nusantara dan PT Sari Dumai Sejati yang tergabung ke dalam grup usaha Royal Golden Eagle, lalu Musim Mas dan PT Intibenua Perkasatama.
Baca Juga: PP INTI Beri Beasiswa Cathlyn dan Meivy Saat Polemik Seleksi Paskibraka Sulsel Jadi Sorotan Nasional
Pemeriksaan turut menyasar ke Grup Sinar Mas di antaranya Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Sumber Indah Perkasa dan PT Ivo Mas Tunggal.