• Kamis, 4 Juni 2026

Pemerintah Kalah Cepat dari Algoritma. Pergantian Komunikasi Istana Dinilai Belum Sentuh Akar Masalah Utama

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Selasa, 28 April 2026 | 15:43 WIB
Aktivitas media sosial  membentuk opini publik secara cepat menjadi tantangan besar bagi strategi komunikasi pemerintah saat ini (Dok. Kreasi Dola AI)
Aktivitas media sosial membentuk opini publik secara cepat menjadi tantangan besar bagi strategi komunikasi pemerintah saat ini (Dok. Kreasi Dola AI)

THE BOTTOM LINE:

  • Pemerintah dinilai kalah cepat dalam perang narasi digital karena masih menggunakan pola komunikasi lama berbasis birokrasi formal
  • Pergantian komando komunikasi Istana belum menyentuh akar masalah utama yaitu sistem distribusi informasi berbasis algoritma
  • Dominasi algoritma membuat opini publik terbentuk lebih cepat dibanding respons resmi pemerintah yang cenderung lambat

BISNISNEWS.COM - Apakah pergantian komando komunikasi Istana benar-benar menyelesaikan masalah atau hanya mengganti wajah lama dengan pola lama?

Mengapa pemerintah masih kalah cepat membentuk opini publik di tengah dominasi algoritma yang bergerak dalam hitungan detik?

Pemerintah Dinilai Tertinggal dalam Perang Narasi Digital Berbasis Algoritma

Pergantian struktur komunikasi di Istana kembali terjadi, namun pola lama dinilai belum berubah dalam menghadapi dinamika opini publik digital yang semakin cepat dan kompleks.

Baca Juga: Ketahanan Pangan Indonesia Tetap Aman Meski Konflik Timur Tengah Ganggu Jalur Perdagangan Global Saat Ini

Fenomena ini mengemuka ketika narasi publik sering lebih dahulu terbentuk melalui media sosial sebelum klarifikasi resmi pemerintah dirilis kepada masyarakat luas.

CEO Promedia Group, Agus Sullistriyono, menilai persoalan utama bukan pada figur, melainkan pada sistem komunikasi yang belum beradaptasi dengan ekosistem algoritma digital.

Algoritma Mengubah Cara Publik Mengonsumsi Informasi Secara Cepat Emosional

Dalam lanskap digital saat ini, algoritma menjadi penentu utama distribusi informasi yang berbasis perhatian, kecepatan, serta relevansi emosional terhadap audiens.

Baca Juga: Pemerintah Cari Alternatif LPG DME dan CNG untuk Kurangi Impor Energi Nasional Indonesia Secara Bertahap

Agus Sullistriyono menjelaskan bahwa publik tidak lagi menunggu penjelasan resmi karena sudah terpapar berbagai versi informasi dalam format singkat dan viral.

Kondisi ini membuat pemerintah kerap tertinggal karena masih mengandalkan pendekatan formal dan proses birokratis yang memerlukan waktu lebih panjang.

Ketergantungan Pada Media Besar Dinilai Tidak Lagi Efektif Saat Ini

Selama ini, pemerintah cenderung bertumpu pada segelintir media besar sebagai kanal utama penyampaian informasi kepada publik secara nasional.

Baca Juga: Jumhur Hidayat Jadi Menteri Lingkungan Hidup, Akankah Idealisme Aktivis Bertahan dalam Tekanan Politik

Namun, distribusi informasi kini lebih tersebar melalui ribuan media lokal dan komunitas digital yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat sehari-hari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini