• Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Melemah Ke Rp17.300, Apakah Narasi Undervalued Masih Relevan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Senin, 27 April 2026 | 15:12 WIB
Managing Director PEPS, Anthony Budiawan sebut grafik ekonomi menunjukkan tren pelemahan rupiah dalam satu dekade terakhir. (Dok. Instagram @anthony _budiawan)
Managing Director PEPS, Anthony Budiawan sebut grafik ekonomi menunjukkan tren pelemahan rupiah dalam satu dekade terakhir. (Dok. Instagram @anthony _budiawan)

THE BOTTOM LINE:

  • Rupiah menyentuh Rp17.300 per Dolar AS, narasi undervalued kembali muncul di tengah tekanan pasar global.
  • Tren depresiasi sejak 2014 memicu pertanyaan soal akurasi nilai wajar rupiah yang terus dipertahankan.
  • Ketergantungan pada modal asing dan struktur ekonomi lemah jadi sorotan utama dalam pelemahan rupiah

BISNSINEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah hingga Rp17.300 per dolar AS benar sekadar gejolak global sementara?

Mengapa narasi “undervalued” terus diulang selama lebih dari satu dekade tanpa perubahan tren signifikan?

Narasi Rupiah Undervalued Kembali Muncul Saat Tekanan Nilai Tukar

Nilai tukar rupiah kembali menyentuh kisaran Rp17.300 per dolar AS pada Jumat (24/04/2026), memicu kekhawatiran pelaku pasar dan masyarakat luas.

Baca Juga: Reshuffle Kabinet Prabowo Hari Ini 27 April 2026, Daftar Nama Menteri Baru Mulai Terungkap ke Publik

Di tengah tekanan tersebut, narasi lama kembali muncul bahwa rupiah berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued.

Narasi ini bukan hal baru, karena telah berulang sejak 2014 setiap kali rupiah mengalami tekanan signifikan akibat dinamika global.

Anthony Budiawan, Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), menilai pola komunikasi tersebut terus digunakan untuk meredam kepanikan pasar.

Baca Juga: Pemerintah Perketat Penegakan Pajak Bentuk Tim Khusus Kejar 40 Korporasi Penunggak Tingkatkan Kepatuhan

Ia menyatakan bahwa narasi undervalued telah menjadi alat komunikasi, bukan lagi refleksi analisis fundamental yang objektif.

Fundamental Ekonomi Kuat Namun Struktur Masih Menyimpan Kerentanan

Secara makro, indikator ekonomi Indonesia menunjukkan stabilitas dengan inflasi terkendali dan pertumbuhan relatif konsisten.

Namun di balik itu, terdapat tekanan struktural yang dinilai belum terselesaikan secara menyeluruh dalam jangka panjang.

Baca Juga: ESDM Minta Bobibos Uji Teknis Lemigas Sebelum Dipasarkan, Ini Alasan Pentingnya Standarisasi Energi

Cadangan devisa, misalnya, masih sangat dipengaruhi oleh aliran utang dan investasi asing yang bersifat jangka pendek.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini