THE BOTTOM LINE:
- Agung Suryamal menilai pengusaha menghadapi tekanan biaya produksi, pelemahan rupiah, dan daya beli yang melemah.
- Sektor manufaktur, perdagangan, tekstil, otomotif, hingga elektronik menghadapi tantangan berat akibat ketidakpastian ekonomi.
- Penguatan arus kas, efisiensi operasional, dan diversifikasi bahan baku menjadi strategi utama menghadapi tekanan.
BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah dan melambatnya daya beli masyarakat menjadi ancaman terbesar bagi dunia usaha saat ini?
Mampukah para pengusaha mempertahankan pertumbuhan bisnis ketika biaya produksi terus meningkat sementara ketidakpastian ekonomi global masih membayangi berbagai sektor usaha?
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia wilayah Jawa Barat, Agung Suryamal, menilai dunia usaha sedang menghadapi tekanan berlapis yang menuntut perubahan strategi bisnis secara cepat.
Baca Juga: Kementan Ancam Cabut Izin PKS Nakal, Harga TBS Sawit Mulai Pulih Usai Kepastian Ekspor Nasional
Menurutnya, tantangan tersebut tidak hanya berasal dari pelemahan rupiah, tetapi juga meningkatnya biaya produksi dan melambatnya permintaan pasar.
Kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha mengalihkan fokus dari ekspansi menuju upaya menjaga keberlangsungan bisnis.
Pelemahan Rupiah Membuat Biaya Produksi Semakin Sulit Dikendalikan
Agung menjelaskan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap harga bahan baku impor, mesin produksi, komponen elektronik, dan kebutuhan industri lainnya.
Sektor manufaktur, farmasi, otomotif, tekstil, dan elektronik menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan tersebut.
“Masalahnya, tidak semua korporasi dapat langsung menaikkan harga jual karena daya beli konsumen juga sedang tertekan,” ujar Agung.
Akibatnya, margin keuntungan pelaku usaha terus mengalami penyusutan dalam beberapa waktu terakhir.
Daya Beli Masyarakat Melambat dan Menekan Permintaan Pasar
Selain biaya produksi, tantangan lain datang dari perlambatan konsumsi rumah tangga yang memengaruhi berbagai sektor usaha.