THE BOTTOM LINE:
- Ketahanan pangan Indonesia tetap aman meski konflik Timur Tengah ganggu jalur perdagangan global saat ini.
- Pasokan 11 pangan pokok strategis surplus hingga Juni 2026 menurut Badan Pangan Nasional
- Sumber impor pangan Indonesia tidak berasal dari kawasan konflik sehingga risiko gangguan distribusi rendah
BISNISNEWS.COM - Apakah konflik Timur Tengah benar-benar mengancam pasokan pangan Indonesia saat ini?
Mengapa pemerintah justru memastikan stok pangan nasional tetap aman meski jalur perdagangan global terganggu?
Ketahanan Pangan Nasional Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global
Pemerintah memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah mengganggu jalur perdagangan internasional melalui Selat Hormuz sejak awal 2026.
Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy, menyampaikan bahwa ketersediaan 11 pangan pokok strategis masih dalam kondisi surplus hingga Juni 2026.
Ia menegaskan, Indonesia belum merasakan dampak signifikan dari konflik tersebut karena jalur impor pangan utama tidak melalui kawasan terdampak.
“Kemudian pengaruh perang, kaitan dengan pangan, Indonesia belum merasakan ada dampaknya karena ketersediaan sangat cukup,” ujar Sarwo Edhy di Jakarta, Senin (27/04/2026).
Sumber Impor Pangan Indonesia Tidak Bergantung Kawasan Konflik Timur Tengah
Pemerintah menjelaskan bahwa sumber impor pangan strategis Indonesia berasal dari negara yang tidak terdampak konflik Selat Hormuz.
Kedelai diimpor dari Amerika Serikat, daging kerbau dari India, sapi dari Australia, dan bawang putih dari Tiongkok.
Kondisi ini membuat distribusi pangan tetap stabil tanpa gangguan signifikan dari konflik global yang terjadi.
Sarwo Edhy menyebut strategi diversifikasi sumber impor menjadi faktor penting menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.