THE BOTTOM LINE:
- Pasar modal Indonesia menghadapi tantangan besar di era AGI karena investor global kini mencari narasi pertumbuhan berbasis teknologi.
- Pandu Patria Sjahrir menilai dominasi saham bank dan komoditas perlu diimbangi transformasi sektor strategis baru.
- Energi nasional dinilai berpotensi menjadi pintu masuk Indonesia dalam ekosistem AI global jika dikawal melalui strategi pasar tepat.
BISNISNEWS.COM - Mengapa pasar modal Indonesia belum menjadi magnet utama investor global saat revolusi kecerdasan buatan melesat?
Apakah dominasi saham perbankan justru menjadi sinyal bahwa Bursa Efek Indonesia tertinggal dari perubahan ekonomi dunia yang bergerak sangat cepat?
Saat Bursa Global Berlari, Indonesia Masih Mencari Cerita Baru
Pernyataan Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir, memantik perhatian pelaku pasar, ia menyoroti tantangan besar Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dinilai masih bertumpu pada sektor tradisional.
Menurut Pandu, dunia kini memasuki era artificial general intelligence atau AGI yang mengubah arah investasi global.
Dalam keterangannya kepada media, Pandu mengatakan investor internasional kini mencari narasi pertumbuhan berbasis teknologi.
Menurut dia, pasar global tidak lagi hanya mengejar valuasi murah, investor kini memburu ekosistem yang terhubung dengan revolusi teknologi masa depan.
Pernyataan itu muncul di tengah perhatian pasar terhadap arah indeks dan volatilitas nilai tukar rupiah.
Sebelumnya, tekanan terhadap pasar domestik akibat sentimen eksternal, kondisi tersebut menempatkan Bursa Efek Indonesia dalam persimpangan penting.
Dominasi Perbankan Dinilai Belum Menjawab Tantangan Transformasi Digital
Pandu menilai struktur pasar modal Indonesia masih didominasi saham sektor perbankan dan komoditas, komposisi tersebut dinilai belum mencerminkan transformasi ekonomi berbasis teknologi.
Ia menyebut dunia investasi kini bergerak menuju sektor strategis baru, sektor itu meliputi pusat data, komputasi awan, energi digital, dan infrastruktur AI.
Artikel Terkait
Rupiah Tembus Rp17.500 Per Dolar AS, Ketegangan Selat Hormuz Kini Jadi Ancaman Baru Bagi Stabilitas Ekonomi
Transformasi TLKM 30 Dorong Kinerja Telkom 2025, Mengapa Return Pemegang Saham Justru Melonjak
Rupiah Tembus Rp17.529, Purbaya Rapat Mendadak di Kemenkeu Siapkan Strategi Jaga Stabilitas Nilai Tukar
Rupiah Tembus Rp17.500, Mengapa Pemerintah Tetap Yakin APBN Aman di Tengah Tekanan Dolar AS Global
Dolar AS Sentuh Rp17.500, Ini Alasan Bank Indonesia Optimistis Stabilitas Rupiah Masih Tetap Bisa Dijaga
Tarif Royalti Minerba Masih Dikaji, ini Dampaknya Terhadap Investasi Nikel dan Strategi Hilirisasi Nasional ke Depan
Keyakinan Konsumen Indonesia April 2026 Menguat Saat Tabungan Masyarakat dan Peluang Kerja Sama Sama Naik
KPK Didesak Periksa Dirjen Bea Cukai Usai Fakta Sidang Blueray Cargo, Ada Apa di Balik Dugaan Suap Impor
Harga Telur Magetan Anjlok, Langkah Pemerintah Lewat Program MBG Kini Jadi Sorotan Peternak dan Pelaku Pasar
Harga Telur Jatuh di Magetan, Bisakah Program Makan Bergizi Gratis Menjadi Penopang Baru Bagi Peternak Lokal