Menurut Dr. Ariyo DP Irhamna, pelemahan kurs menggerus daya beli nasional secara agregat.
Ia menghitung PDB per kapita Indonesia turun dari ekuivalen Dolar AS5.540 menjadi sekitar Dolar AS5.190.
Pada saat sama, surplus perdagangan Januari hingga Maret 2026 menyusut menjadi Dolar AS5,55 miliar.
Penurunan ini terjadi meski rupiah terus melemah, menunjukkan ekspor belum merespons depresiasi secara optimal.
Kualitas Belanja Menentukan Masa Depan Pertumbuhan Nasional
Dr. Ariyo DP Irhamna menilai pemerintah perlu mengubah orientasi belanja untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Ia menekankan percepatan belanja modal lebih penting dibanding ekspansi belanja konsumtif jangka pendek.
Baca Juga: Danantara Beli Saham GoTo, DPR Soroti Langkah Investasi Digital di Tengah Ketidakpastian Pasar Modal
Belanja modal baru terealisasi 12,5 persen dari pagu tahunan pada triwulan pertama, sebaliknya, belanja barang termasuk program sosial tumbuh jauh lebih cepat.
Ia juga mendorong reformasi subsidi energi agar lebih tepat sasaran kepada kelompok rentan.
Menurutnya, tantangan utama bukan mempertahankan headline pertumbuhan.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.500 Per Dolar AS, Seberapa Besar Ancaman Kenaikan Harga Bagi Ekonomi Saat Ini
Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah pertumbuhan itu dibangun dengan kualitas kuat atau sekadar kuantitas sesaat.****
Artikel Terkait
Serangan Drone di UEA Picu Harga Minyak Naik Ke 110 Dolar AS, Apa Efeknya untuk Ekonomi Global
Pelemahan Rupiah dan Konflik Timur Tengah, Tekanan Kurs Kini Dinilai Lebih Berat Bagi Perekonomian
IHSG Tertekan Usai MSCI Rebalancing, Pasar Modal Masih Rentan Terhadap Tekanan Global dan Foreign Outflow
DPR Panggil Danantara Soal GoTo, Apa Makna Investasi Digital Bagi Masa Depan Korporasi Negara
IHSG Mei 2026 Ungkap Kerentanan Pasar Modal, Seberapa Kuat Ketahanan Finansial Hadapi Guncangan Global
Fiskal Indonesia Disorot, Rasio Penerimaan Negara Turun Saat Pemerintah Optimis Hadapi Tekanan Utang
Panda Bond dan Fiskal Indonesia, Apa Makna Di Balik Narasi Keuangan Negara Kuat di Tengah Lonjakan Utang
Oei Iming Wijaya Kembali Pimpin PSMTI Sulbar, Apa Agenda Besar Organisasi Sosial Tionghoa Untuk Sulawesi Barat
Prabowo Panggil Tim Ekonomi Saat Rupiah Nyaris Rp17.700, Apa Sinyal Besar Bagi Stabilitas Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Mengapa Defisit Fiskal dan Pelemahan Rupiah Membayangi Stabilitas