• Kamis, 4 Juni 2026

Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Apa Risiko Fiskal yang Mengancam Daya Tahan Ekonomi Indonesia

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Selasa, 19 Mei 2026 | 22:00 WIB
Data ekonomi Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif, namun indikator struktural mengungkap tantangan keberlanjutan yang besar. (Dok. Kreasi Dola AI)
Data ekonomi Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif, namun indikator struktural mengungkap tantangan keberlanjutan yang besar. (Dok. Kreasi Dola AI)

Tekanan Fiskal dan Utang Menjadi Ujian Daya Tahan

Sorotan terbesar datang dari kondisi fiskal yang mengalami tekanan signifikan sejak awal tahun.

Defisit primer triwulan I-2026 tercatat Rp95,8 triliun, berbalik tajam dari surplus Rp21,9 triliun pada periode sama tahun lalu.

Baca Juga: Oei Iming Wijaya Kembali Pimpin PSMTI Sulbar, Apa Agenda Besar Organisasi Sosial Tionghoa Untuk Sulawesi Barat

Dr. Ariyo DP Irhamna menyebut perubahan ini menunjukkan ongkos pertumbuhan semakin mahal.

Ia menegaskan ruang fiskal menyempit ketika belanja akseleratif tidak diimbangi penguatan penerimaan.

Beban pembayaran bunga utang juga naik menjadi sekitar Rp144,3 triliun atau tumbuh 18,6 persen secara tahunan.

Baca Juga: IHSG Mei 2026 Ungkap Kerentanan Pasar Modal, Seberapa Kuat Ketahanan Finansial Hadapi Guncangan Global

Data ini sejalan dengan tren APBN yang sebelumnya beberapa kali mendapat sorotan media arus utama terkait pembengkakan kewajiban bunga.

Defisit primer tersebut bahkan telah melampaui pagu tahunan APBN 2026 sebesar Rp89,7 triliun.

Menurut Dr. Ariyo DP Irhamna, situasi ini membuat tiga kuartal berikutnya berpotensi sangat bergantung pada penerbitan utang baru.

Baca Juga: Panda Bond dan Fiskal Indonesia, Apa Makna Di Balik Narasi Keuangan Negara Kuat di Tengah Lonjakan Utang

Rupiah Melemah dan Surplus Dagang Terus Menyusut

Tekanan eksternal menjadi faktor lain yang memperbesar kerentanan ekonomi nasional.

Nilai tukar rupiah sempat menembus Rp17.605 per Dolar AS pada Jumat, 16/05/2026, angka tersebut melampaui asumsi APBN yang jauh lebih rendah.

Cadangan devisa juga turun tiga bulan berturut-turut hingga tersisa Dolar AS148,2 miliar pada akhir Maret.

Baca Juga: Fiskal Indonesia Disorot, Rasio Penerimaan Negara Turun Saat Pemerintah Optimis Hadapi Tekanan Utang

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini