• Kamis, 4 Juni 2026

Fiskal Indonesia Disorot, Rasio Penerimaan Negara Turun Saat Pemerintah Optimis Hadapi Tekanan Utang

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Senin, 18 Mei 2026 | 15:44 WIB
Managing Director PEPS, Anthony Budiawan memaparkan analisis terbaru tentang tekanan fiskal Indonesia yang memicu sorotan terhadap stabilitas APBN 2026 dan keberlanjutan pembiayaan negara. (Dok. Instagram @anthony _budiawan)
Managing Director PEPS, Anthony Budiawan memaparkan analisis terbaru tentang tekanan fiskal Indonesia yang memicu sorotan terhadap stabilitas APBN 2026 dan keberlanjutan pembiayaan negara. (Dok. Instagram @anthony _budiawan)

THE BOTTOM LINE:

  • Rasio penerimaan negara 9,3 persen memicu sorotan fiskal Indonesia, sementara beban bunga utang menekan ruang belanja negara
  • Rencana Panda Bond di Tiongkok memunculkan pertanyaan baru soal konsistensi narasi fiskal kuat pemerintah
  • Wacana Bond Stabilization Fund dinilai berisiko mengaburkan sinyal pasar obligasi dan persepsi investor global

BISNISNEWS.COM - Mengapa rasio penerimaan negara Indonesia menyentuh titik terendah di ASEAN saat pemerintah menyebut fiskal tetap kuat?

Apakah rencana penerbitan Panda Bond dan intervensi obligasi justru menjadi sinyal tersembunyi bahwa tekanan fiskal Indonesia semakin sulit dibendung?

Tekanan Fiskal Indonesia Memicu Sorotan Baru dari Pelaku Pasar

Kondisi fiskal Indonesia kembali menjadi perhatian setelah rasio penerimaan negara terhadap produk domestik bruto pada triwulan I 2026 tercatat hanya 9,3 persen.

Baca Juga: IHSG Tertekan Usai MSCI Rebalancing, Pasar Modal Masih Rentan Terhadap Tekanan Global dan Foreign Outflow

Angka tersebut dinilai menjadi yang terendah di kelompok ASEAN-7, sekaligus menandakan tekanan serius terhadap kapasitas penerimaan negara dalam menopang belanja pemerintah.

Anthony Budiawan, Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), pada Senin, 18/05/2026, menilai kondisi tersebut menunjukkan pelemahan fundamental fiskal yang perlu direspons terbuka.

Menurut Anthony, rasio pembayaran bunga utang yang sudah mencapai 25,1 persen terhadap penerimaan negara mencerminkan tingkat tekanan yang mengkhawatirkan.

Baca Juga: Danantara Beli Saham GoTo, DPR Soroti Langkah Investasi Digital di Tengah Ketidakpastian Pasar Modal

Ia menyebut rasio tersebut telah memasuki kategori yang berpotensi membahayakan keberlanjutan fiskal jika tidak diantisipasi melalui langkah korektif.

Situasi ini mengingatkan pada sorotan berbagai lembaga pemeringkat internasional sebelumnya yang menekankan pentingnya disiplin fiskal pascapandemi.

Narasi Fiskal Kuat Bertabrakan dengan Data Pembiayaan Negara

Anthony menyoroti adanya kontradiksi antara narasi resmi pemerintah mengenai kondisi fiskal dan indikator penerimaan negara yang melemah.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.500 Per Dolar AS, Seberapa Besar Ancaman Kenaikan Harga Bagi Ekonomi Saat Ini

Ia menyebut pernyataan pemerintah bahwa kondisi keuangan tetap kuat berpotensi menimbulkan persepsi yang tidak sejalan dengan fakta lapangan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini