• Kamis, 4 Juni 2026

Mengapa Inflasi Indonesia April 2026 Tetap Rendah di Tengah Lonjakan Tarif Transportasi Nasional

Photo Author
Tim HMN Media, Bisnisnews.com
- Selasa, 5 Mei 2026 | 21:00 WIB
Data BPS menunjukkan inflasi April 2026 tetap terkendali di tengah kenaikan tarif transportasi nasional dan penurunan harga bahan pangan strategis. (Dok. Kreasi Dola AI)
Data BPS menunjukkan inflasi April 2026 tetap terkendali di tengah kenaikan tarif transportasi nasional dan penurunan harga bahan pangan strategis. (Dok. Kreasi Dola AI)

BISNISNEWS.COM - Apakah kenaikan tarif transportasi mulai membebani pengeluaran masyarakat di tengah stabilnya inflasi nasional?

Mengapa harga pangan justru turun saat biaya perjalanan melonjak, dan apa dampaknya bagi daya beli?

Transportasi Jadi Pemicu Utama Inflasi April 2026 Nasional Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2026 sebesar 0,13 persen secara bulanan, dengan Indeks Harga Konsumen naik dari 110,95 menjadi 111,09.

Baca Juga: Kebijakan Baru Ekspor Pemerintah Bisa Cabut Izin Eksportir, Apa Dampaknya Bagi Investor dan Industri

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan kontribusi signifikan terhadap angka nasional.

Kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin menjadi faktor dominan, di mana tarif penerbangan menyumbang 0,11 persen dan bensin sebesar 0,02 persen.

Fenomena ini menunjukkan sensitivitas inflasi terhadap biaya mobilitas masyarakat, terutama pada periode dengan aktivitas perjalanan yang meningkat.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Berpotensi Melonjak Lebih Tinggi, Ini Penjelasan CEO ExxonMobil Tentang Penyebab Utamanya

Penurunan Harga Pangan Menjadi Penyeimbang Tekanan Inflasi Bulanan

Di tengah tekanan transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi sebesar 0,20 persen yang membantu menahan inflasi keseluruhan.

Komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan telur ayam ras mencatat penurunan harga signifikan yang berdampak langsung pada stabilitas harga.

Ateng Hartono menjelaskan bahwa daging ayam ras memberikan andil deflasi 0,11 persen, sementara cabai rawit dan telur masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen.

Baca Juga: MBG Tetap Harus Berjalan, Agus Sulistriyono Soroti Krisis Kepercayaan dan Evaluasi Kepemimpinan BGN

Penurunan harga pangan ini menjadi bantalan penting bagi daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah yang sensitif terhadap harga kebutuhan pokok.

Komponen Inti dan Harga Diatur Pemerintah Ikut Mengalami Kenaikan

Inflasi inti tercatat sebesar 0,23 persen yang dipicu kenaikan harga minyak goreng, makanan siap saji, serta barang elektronik seperti ponsel dan laptop.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini