• Kamis, 4 Juni 2026

Transaksi Dagang Indonesia Melonjak di Shanghai, Apa Rahasia Produk Pangan Menarik Minat Pasar Tiongkok

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Rabu, 20 Mei 2026 | 19:00 WIB
Wamendag RI Dyah Roro Esti Widya Putri menyaksikan penandatanganan 12 kesepakatan dagang yang membawa potensi transaksi 60,3 juta Dolar AS bagi ekspor pangan Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)
Wamendag RI Dyah Roro Esti Widya Putri menyaksikan penandatanganan 12 kesepakatan dagang yang membawa potensi transaksi 60,3 juta Dolar AS bagi ekspor pangan Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)

Strategi Kemendag Dorong Standar Ekspor Semakin Kompetitif

Dyah Roro menegaskan perluasan pasar bukan hanya soal promosi, melainkan juga kesiapan memenuhi standar ekspor Tiongkok.

Kemendag disebut aktif memfasilitasi pelaku usaha memahami ketentuan pelabelan, pengemasan, dan standar mutu yang berlaku.

Baca Juga: ABDI dan PSMTI Cetak Eksekutif Pelindungan Data Pribadi, Siapkah Korporasi Hadapi Tantangan Keamanan Siber

“Pelaku usaha Indonesia sudah memahami standar yang berlaku, termasuk penyesuaian bahasa dan labelling,” kata Dyah Roro.

Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah memperkuat daya saing ekspor nonmigas.

Sebelumnya, pada Trade Expo Indonesia 2025, Indonesia dan Tiongkok juga mencatat sembilan kesepakatan dagang bernilai besar.

Dua Belas Kesepakatan Jadi Bukti Kepercayaan Pasar

Dua belas MoU yang ditandatangani tersebut adalah:

1. PT Ramantha Kawanua Indonesia dan One Belt One Road International Group untuk keripik pisang, abon ikan, dan sambal ikan.2. PT Ramantha Kawanua Indonesia dan Guangzhou Buin Information Technology untuk abon tuna.
3. PT Kultiva Makmum Indonesia dan Seastar Foods untuk keripik tempe dan keripik buah.

4. Temon Agro Lestari (Desa BISA Ekspor) dan Shanghai Jintuo Trading untuk gula aren semut dan gula aren mini kubus.
5. PT Sari Alami dan Sichuan Indo Gateway Business Hub. untuk kopi arabika, robusta sangrai, dan kopi bubuk.
6. PT Bahari Agro Indonesia dengan Qingdao Zhongzhen Biotechnology untuk rumput laut kering dan kepala udang kering.

Baca Juga: Fahri Hamzah Respons Kritik The Economist, Prabowonomics Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

7. PT Bali Organik Subak dan Shanghai Yifei Agricultural Product untuk salak segar.
8. Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (APDURIN) dengan Chengdu Huisin Technology untuk durian beku.
9. PT Aditama Tunggal Perkasa (Petani Milenial) dengan Top Fiber International Trading untuk sabut kelapa (cocofiber), serat sikat kelapa (coco bristle), dan gambut kelapa (coco peat).

10. PT Export Tani Nusantara (Desa BISA Ekspor) dan Shanghai Youji Agricultural Development untuk biji kopi hijau (green bean) dan biji vanila.
11. PT Segara Pacific Resources dan Degine Corporation untuk teripang kering.
12. PT Anugerah Citra Walet dan Shanghai Zhong Yan Import & Export Trade untuk sarang burung walet.

Baca Juga: Kenaikan Dolar AS dan Dampaknya ke Desa, Jaya Suprana Ungkap Fakta Ekonomi yang Jarang Disadari Publik

Peluang Baru Perkuat Ekspor dan Devisa Nasional

Lonjakan transaksi di SIAL 2026 memberi sinyal optimistis bagi target peningkatan ekspor pangan olahan Indonesia.

Capaian ini memperlihatkan peluang besar bagi UMKM dan eksportir untuk menembus pasar internasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini