finansial

Rupiah Tembus Rp17.300 Per Dolar AS, IHSG Turun Tajam Picu Kekhawatiran Pelaku Pasar Domestik

Selasa, 12 Mei 2026 | 18:00 WIB
Analis ekonomi politik pasar saham Kusfiardi menyoroti pasar saham dan nilai tukar Rupiah menjadi perhatian pelaku usaha serta investor di tengah tekanan ekonomi dunia. (Dok. Kreasi Dola AI)

Menurutnya, Indonesia masih dipersepsikan bergantung pada ekspor komoditas, impor bahan baku industri, serta pembiayaan berbasis mata uang asing.

Ketika sentimen global memburuk dan Dolar AS menguat, tekanan langsung muncul terhadap pasar saham dan nilai tukar Rupiah.

Baca Juga: Royalti Tambang Naik Juni 2026, Pemerintah Cari Formula Aman untuk Korporasi Batu Bara dan Nikel Nasional

“Indonesia masih dipersepsikan sebagai ekonomi yang sangat bergantung pada komoditas, impor bahan baku, dan pembiayaan berbasis dolar,” kata Kusfiardi.

Ia menjelaskan pelemahan Rupiah dapat meningkatkan biaya impor energi dan bahan baku industri yang selama ini masih mendominasi kebutuhan nasional.

Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta menurunkan daya beli masyarakat dalam beberapa sektor konsumsi.

Baca Juga: Muhammadiyah Terapkan Budaya Hidup Hemat, Penggunaan Mobil Diesel dan AC Mulai Dibatasi Bertahap

“Level Rupiah di atas Rp17.000 bukan lagi sekadar isu moneter, tetapi sudah menjadi persoalan ekonomi politik,” ujarnya.

Pasar Mulai Soroti Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Saat Ini

Kusfiardi juga menyoroti adanya kontradiksi antara pertumbuhan ekonomi nasional dan tekanan besar yang terjadi di pasar keuangan domestik.

Menurutnya, pasar mulai meragukan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada konsumsi domestik dan ekspor komoditas mentah.

Baca Juga: Pembiayaan Produktif Pindar Tembus Rp34,66 Triliun, OJK Soroti Risiko Gagal Bayar Pinjaman Kaum Muda

Ia menilai struktur ekonomi nasional belum sepenuhnya didukung industrialisasi kuat serta produktivitas sektor riil yang mendalam dan berkelanjutan.

“Pasar melihat pertumbuhan Indonesia belum cukup ditopang industrialisasi yang kuat dan produktivitas sektor riil yang dalam,” katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu penguatan industri manufaktur dan hilirisasi juga menjadi perhatian pemerintah untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Baca Juga: Saat Audiens Menjawab Tidak, Mengapa Komunikasi Pemimpin Langsung Jadi Sorotan Viral Media Sosial

Halaman:

Tags

Terkini