• Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Jadi Penyangga Tekanan Ekonomi Nasional, Ekonom Ungkap Penyebab Pelemahan Kurs yang Terjadi Saat Ini

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:37 WIB
Rupiah dan dolar AS di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global yang memengaruhi pergerakan nilai tukar Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)
Rupiah dan dolar AS di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global yang memengaruhi pergerakan nilai tukar Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)

Inflasi Terkendali Tetapi Tekanan Ekonomi Berpindah ke Kurs

Fakhrul menjelaskan kenaikan harga energi global dalam kondisi normal akan memengaruhi inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar secara bersamaan.

Namun penyesuaian harga domestik yang dilakukan secara hati-hati untuk menjaga daya beli masyarakat membuat sebagian tekanan berpindah ke pasar valuta asing.

Baca Juga: BI Rate Naik Tetapi Rupiah Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Investor Soroti Risiko Ekonomi Indonesia

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” katanya.

Ia menegaskan kondisi tersebut sejalan dengan teori Dornbusch Overshooting ketika pasar keuangan bergerak lebih cepat dibandingkan penyesuaian harga domestik.

Koordinasi Kebijakan Menjadi Sorotan Utama Pelaku Pasar

Meski rupiah mengalami tekanan, Fakhrul menilai fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.795 per Dolar AS, Purbaya Sebut Kondisi Pasar Keuangan Nasional Tidak Masuk Akal

Inflasi masih terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih berada dalam jalur positif.

Namun pasar saat ini lebih fokus mengamati konsistensi kebijakan dan keberadaan policy anchor yang mampu memberikan kepastian di tengah ketidakpastian global.

Dari sisi eksternal, tekanan datang dari penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, serta fragmentasi perdagangan dunia.

Baca Juga: Kemenkeu Kantongi 10 Korporasi Sawit Diduga Manipulasi Harga Ekspor CPO, Kejagung Mulai Dalami Kasus Besar

Dunia Usaha Mulai Menghadapi Tekanan Ganda Berkepanjangan

Fakhrul menilai pelemahan rupiah dan tingginya biaya pendanaan mulai berdampak pada sektor riil.

Banyak industri manufaktur masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, energi, serta pembiayaan yang sensitif terhadap pergerakan kurs dan suku bunga.

“Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, maka korporasi tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja,” ujarnya.

Baca Juga: Tambang Emas Ilegal Sumbar Sulit Dihentikan Meski Razia Berulang Terus Dilakukan Aparat Penegak Hukum

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini