• Kamis, 4 Juni 2026

Akademisi UGM Soroti Jarak Narasi Optimisme Pemerintah dengan Tekanan Ekonomi Masyarakat Saat Ini

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Sabtu, 23 Mei 2026 | 16:02 WIB
Diskusi akademisi UGM menyoroti meningkatnya keresahan masyarakat akibat pelemahan rupiah dan tekanan ekonomi nasional yang memengaruhi daya beli publik. (Dok. ugm.ac.id)
Diskusi akademisi UGM menyoroti meningkatnya keresahan masyarakat akibat pelemahan rupiah dan tekanan ekonomi nasional yang memengaruhi daya beli publik. (Dok. ugm.ac.id)

THE BOTTOM LINE:

  • Kritik akademisi UGM menyoroti jarak narasi optimisme pemerintah dengan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat sehari-hari.
  • Pelemahan rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan turunnya daya beli memicu meningkatnya keresahan publik nasional.
  • Akademisi meminta kebijakan ekonomi pemerintah berbasis riset, empati publik, serta evaluasi program prioritas nasional.

BISNISNEWS.COM - Apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat saat harga kebutuhan pokok terus naik?

Mengapa narasi optimisme pemerintah justru memicu kritik di tengah tekanan rupiah dan melemahnya daya beli publik?

Akademisi UGM Soroti Jarak Narasi Pemerintah dan Kondisi Publik

Keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional dinilai semakin meningkat seiring pelemahan rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan menurunnya daya beli masyarakat.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp17.700, BI Tegaskan Kondisi Ekonomi Berbeda dengan Krisis Moneter 1998 Sekarang

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Menguji Narasi Optimisme Negara di Balik Gejolak Ekonomi Nasional di Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (19/5/2026).

Diskusi menghadirkan Dosen Departemen Manajemen Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Media Wahyudi Askar, serta Dosen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Gilang Desti Parahita.

Media Wahyudi Askar menilai pemerintah terlalu fokus menjaga stabilitas narasi ekonomi dibanding membaca kondisi riil masyarakat di lapangan.

Baca Juga: IHSG Rebound Ditopang Saham Energi dan Barang Baku Setelah Sempat Menyentuh Level Psikologis Penting

Ia menyebut masyarakat kini lebih kritis karena memiliki akses informasi yang luas dan merasakan langsung tekanan ekonomi sehari-hari.

“Problem terbesar hari ini adalah terlalu jauh antara angka yang dinarasikan oleh pemerintah dengan realita di lapangan,” ujar Media Wahyudi Askar.

Tekanan Daya Beli Dinilai Memicu Turunnya Kepercayaan Publik Nasional

Menurut Media, pertumbuhan ekonomi nasional belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata.

Baca Juga: BI Ungkap Penyebab Rupiah Melemah Hingga Rp17.700 Per Dolar AS di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Ia menilai manfaat pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati kelompok elite yang memiliki akses modal dan aset besar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini