• Kamis, 4 Juni 2026

Utang Luar Negeri Jadi Faktor Penopang Rupiah, Fakta di Balik Stabilitas Nilai Tukar Indonesia Saat Ini

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Kamis, 7 Mei 2026 | 22:00 WIB
Managing Director PEPS, Anthony Budiawan. Rupiah dan Dolar AS menunjukkan tekanan akibat defisit transaksi berjalan dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia.  (Dok. Instagram @anthony _budiawan)
Managing Director PEPS, Anthony Budiawan. Rupiah dan Dolar AS menunjukkan tekanan akibat defisit transaksi berjalan dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia. (Dok. Instagram @anthony _budiawan)

Jika dikonversi dengan kurs rata-rata Rp14.500 per Dolar AS, angka ini setara Rp1.103,02 triliun atau sekitar 63,8 persen dari total penambahan utang negara.

Ia menilai praktik ini ibarat “doping” terhadap kurs rupiah karena penguatan nilai tukar tidak berasal dari fundamental ekonomi yang sehat.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh Stabil Didukung Investasi Ekspor dan Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat

Menurutnya, strategi ini menciptakan ilusi stabilitas yang bergantung pada pembiayaan eksternal, bukan kekuatan ekonomi domestik.

Strategi Pembiayaan Anggaran dan Dampaknya Terhadap Stabilitas

Selama periode yang sama, defisit anggaran hanya mencapai Rp1.570,25 triliun, namun penarikan utang mencapai Rp1.729,43 triliun.

Anthony Budiawan menyebut terdapat kelebihan pembiayaan atau SiLPA sebesar Rp159,18 triliun yang turut menopang cadangan devisa nasional.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen Namun Rupiah Melemah Tajam Picu Kekhawatiran Stabilitas

Ia menjelaskan bahwa tambahan utang ini digunakan tidak hanya untuk menutup defisit anggaran, tetapi juga memperkuat cadangan devisa guna menjaga stabilitas rupiah.

Kondisi ini menunjukkan kebijakan fiskal dan moneter saling terkait erat dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Namun, ketergantungan pada utang dinilai meningkatkan risiko fiskal jangka panjang apabila tidak diimbangi perbaikan fundamental ekonomi.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen, Ini Faktor Utama dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

Tekanan Global Berulang dan Kerentanan Nilai Tukar Rupiah

Sejarah menunjukkan rupiah beberapa kali mengalami tekanan signifikan, seperti pada 2015, 2018, dan awal 2020.

Anthony Budiawan mencatat pada 2015 cadangan devisa turun 5,9 miliar Dolar AS karena penarikan utang tidak mencukupi kebutuhan pembiayaan.

Akibatnya, kurs rupiah melemah dari sekitar Rp12.400 menjadi Rp14.800 per Dolar AS dalam waktu kurang dari satu tahun.

Baca Juga: Teknologi Baru Tiongkok Berpotensi Ubah Peta Kekuatan Digital Dunia dan Tekan Dominasi Amerika Serikat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini