Tekanan Fiskal dan Utang Menjadi Ujian Daya Tahan
Sorotan terbesar datang dari kondisi fiskal yang mengalami tekanan signifikan sejak awal tahun.
Defisit primer triwulan I-2026 tercatat Rp95,8 triliun, berbalik tajam dari surplus Rp21,9 triliun pada periode sama tahun lalu.
Dr. Ariyo DP Irhamna menyebut perubahan ini menunjukkan ongkos pertumbuhan semakin mahal.
Ia menegaskan ruang fiskal menyempit ketika belanja akseleratif tidak diimbangi penguatan penerimaan.
Beban pembayaran bunga utang juga naik menjadi sekitar Rp144,3 triliun atau tumbuh 18,6 persen secara tahunan.
Data ini sejalan dengan tren APBN yang sebelumnya beberapa kali mendapat sorotan media arus utama terkait pembengkakan kewajiban bunga.
Defisit primer tersebut bahkan telah melampaui pagu tahunan APBN 2026 sebesar Rp89,7 triliun.
Menurut Dr. Ariyo DP Irhamna, situasi ini membuat tiga kuartal berikutnya berpotensi sangat bergantung pada penerbitan utang baru.
Rupiah Melemah dan Surplus Dagang Terus Menyusut
Tekanan eksternal menjadi faktor lain yang memperbesar kerentanan ekonomi nasional.
Nilai tukar rupiah sempat menembus Rp17.605 per Dolar AS pada Jumat, 16/05/2026, angka tersebut melampaui asumsi APBN yang jauh lebih rendah.
Cadangan devisa juga turun tiga bulan berturut-turut hingga tersisa Dolar AS148,2 miliar pada akhir Maret.
Baca Juga: Fiskal Indonesia Disorot, Rasio Penerimaan Negara Turun Saat Pemerintah Optimis Hadapi Tekanan Utang