Namun pelemahan berkepanjangan tetap berpotensi meningkatkan tekanan biaya impor, khususnya energi dan bahan baku industri.
Jika berlangsung lama, tekanan ini dapat mendorong inflasi serta menekan daya beli masyarakat produktif.
Purbaya menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan pasar dan menyiapkan langkah antisipatif bila tekanan eksternal berlanjut.
Baca Juga: IHSG Anjlok dan Rupiah Melemah, Investor Mulai Soroti Ketahanan Ekonomi Menghadapi Tekanan Global
Koordinasi fiskal dan moneter dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas makro nasional.
Dalam jangka pendek, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global dan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Pada akhirnya, level Rp17.500 bukan sekadar angka psikologis, melainkan pengingat bahwa stabilitas ekonomi membutuhkan respons cepat, kredibel, dan terkoordinasi dari seluruh otoritas.****