Tekanan eksternal juga datang dari penguatan indeks dolar AS setelah pasar merespons ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti dari Bank Indonesia menegaskan bank sentral terus melakukan intervensi terukur di pasar valas.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Royalti Minerba Berpotensi Naik, Pengusaha Tambang Tunggu Keputusan Final Pemerintah
Menurut Destry, langkah stabilisasi dilakukan melalui intervensi pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward, dan pembelian surat berharga.
Strategi ini bertujuan menjaga kestabilan nilai tukar tanpa mengganggu likuiditas pasar keuangan nasional.
Mengapa Kepercayaan Investor Menjadi Penentu Arah Kurs
Meski faktor global dominan, pasar tetap mencermati persepsi terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi domestik.
Baca Juga: Dugaan Fraud Telkom Rp5 Triliun Diselidiki Regulator AS, Apa Dampaknya Bagi Saham TLKM dan Investor
Dalam pengalaman sebelumnya, tekanan terhadap rupiah sering kali tidak hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga sentimen terhadap konsistensi kebijakan nasional.
Karena itu, pelemahan kurs kali ini menjadi ujian terhadap kemampuan otoritas menjaga kepercayaan investor.
Background pemberitaan sebelumnya menunjukkan Bank Indonesia beberapa kali berhasil menahan gejolak rupiah melalui intervensi terkoordinasi bersama pemerintah.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Melambat Pada Kuartal II 2026, Bank Mandiri Ungkap Penyebab Utamanya
Cadangan devisa yang memadai dan arus masuk dana asing ke instrumen domestik menjadi penyangga utama stabilitas.
Data tersebut menjadi alasan mengapa pelemahan saat ini dinilai lebih sebagai koreksi pasar ketimbang ancaman krisis fundamental.
APBN Aman Tetapi Risiko Ekonomi Tetap Harus Diwaspadai
Jaminan bahwa APBN aman memberi kepastian penting bagi pelaku usaha dan investor domestik.