Namun, setelah periode tersebut berakhir, tekanan normalisasi konsumsi diperkirakan mulai terasa pada kuartal kedua.
Diah Ayu Yustina menilai sentimen global juga berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap prospek ekonomi nasional.
Baca Juga: Muhammadiyah Terapkan Budaya Hidup Hemat, Penggunaan Mobil Diesel dan AC Mulai Dibatasi Bertahap
“Memasuki kuartal II beberapa indikator ini sudah mulai menunjukkan perlambatan, penjualan retail melambat, indeks keyakinan konsumen juga menurun,” katanya.
Sejumlah pemberitaan sebelumnya juga mencatat bahwa tekanan eksternal, termasuk ketidakpastian pasar global dan perlambatan perdagangan kawasan Asia, terus menjadi perhatian pelaku pasar.
Dukungan Kebijakan Dinilai Masih Mampu Menahan Tekanan
Meski terdapat sinyal perlambatan, korporasi perbankan pelat merah itu menilai fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid.
Baca Juga: Pembiayaan Produktif Pindar Tembus Rp34,66 Triliun, OJK Soroti Risiko Gagal Bayar Pinjaman Kaum Muda
Dukungan berasal dari kebijakan moneter, makroprudensial, dan fiskal yang dinilai masih akomodatif.
Kebijakan tersebut dipandang mampu menjaga likuiditas serta menopang aktivitas investasi dan konsumsi domestik.
“Tapi kita melihat masih ada dukungan dari berbagai kebijakan baik dari sisi moneter, makroprudensial maupun fiskal yang sifatnya akomodatif,” kata Diah Ayu Yustina.
Baca Juga: Saat Audiens Menjawab Tidak, Mengapa Komunikasi Pemimpin Langsung Jadi Sorotan Viral Media Sosial
Menurutnya, respons kebijakan yang tepat akan menjadi faktor penting untuk menjaga momentum ekonomi pada semester pertama.
Proyeksi Pertumbuhan Tetap Berada Dalam Kisaran Aman
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tetap terjaga dalam rentang 5,1 persen hingga 5,5 persen.
Angka tersebut menunjukkan optimisme bahwa perlambatan yang terjadi masih berada dalam batas wajar.