Persoalan Sampah Plastik dan Kualitas Udara Masih Mengkhawatirkan
INDEF menyoroti persoalan sampah plastik dan kualitas udara yang dinilai belum tertangani secara optimal hingga sekarang.
Annisa menjelaskan kebijakan pengelolaan sampah nasional masih lebih fokus pada hilir, termasuk pengolahan sampah menjadi RDF atau Refuse Derived Fuel.
Menurutnya, pendekatan tersebut belum menyentuh akar masalah berupa tingginya produksi sampah dari hulu konsumsi masyarakat dan industri.
“Problem besarnya adalah bagaimana mengurangi sampah sejak awal,” kata Annisa.
Ia menegaskan prinsip reduce, reuse, dan recycle harus menjadi fondasi utama penerapan circular economy di Indonesia.
Selain sampah plastik, kualitas udara juga dinilai menjadi tantangan besar, terutama keterbatasan alat pemantauan PM2.5 di berbagai daerah.
Ketimpangan Data Daerah Hambat Target Pembangunan Berkelanjutan Indonesia
INDEF juga menyoroti lemahnya kapasitas fiskal dan kualitas data pemerintah daerah dalam menyusun Rencana Aksi Daerah SDGs.
Annisa mengatakan sejumlah indikator global bahkan belum memiliki basis data nasional yang memadai, termasuk isu pekerja anak.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Tertinggi Lima Tahun Apa Faktor Utamanya
Kondisi tersebut membuat evaluasi pencapaian target SDGs lingkungan di daerah menjadi tidak optimal dan sulit terukur secara akurat.
Sebelumnya, berbagai laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Asian Development Bank juga menyebut pandemi COVID-19 memperlambat pencapaian SDGs negara berkembang.
Kawasan Asia Pasifik diproyeksikan baru mampu mencapai sebagian target pembangunan berkelanjutan setelah 2030 mendatang.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh Stabil Didukung Investasi Ekspor dan Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat