Data tersebut memperlihatkan masyarakat mulai lebih percaya diri melakukan pembelian barang bernilai besar seperti elektronik rumah tangga dan kendaraan.
Sementara itu, Indeks Penghasilan Saat Ini tercatat tetap optimistis di level 128,1 meskipun turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 129,2.
Baca Juga: Transformasi TLKM 30 Dorong Kinerja Telkom 2025, Mengapa Return Pemegang Saham Justru Melonjak
Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat relatif terjaga meskipun sebagian konsumen masih berhati-hati terhadap perkembangan ekonomi global dan domestik.
Ekspektasi Penghasilan dan Usaha Tetap Menjadi Penopang Utama Ekonomi
Bank Indonesia mencatat Indeks Ekspektasi Konsumen atau IEK berada pada level optimistis sebesar 129,6 meskipun sedikit turun dibandingkan Maret 2026 sebesar 130,4.
Optimisme tersebut didorong ekspektasi penghasilan yang tercatat sebesar 136,9 serta ekspektasi lapangan kerja sebesar 127,7.
Baca Juga: Dolar AS Sentuh Rp17.503, Apa Dampaknya Bagi Rupiah dan Seberapa Besar Risiko Gejolak Selat Hormuz
Ekspektasi kegiatan usaha juga tetap tinggi dengan indeks mencapai 124,1 yang menandakan pelaku usaha dan masyarakat masih percaya aktivitas ekonomi akan berkembang.
Ramdan Denny Prakoso menyampaikan hasil survei menunjukkan persepsi masyarakat terhadap prospek ekonomi nasional masih positif dalam enam bulan mendatang.
Kondisi tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Royalti Minerba Berpotensi Naik, Pengusaha Tambang Tunggu Keputusan Final Pemerintah
Proporsi Tabungan Meningkat Sementara Beban Cicilan Mulai Menurun
Dalam survei yang sama, Bank Indonesia mencatat proporsi pendapatan masyarakat untuk konsumsi mencapai 72,1 persen atau relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 72,2 persen.
Di sisi lain, proporsi pembayaran cicilan atau utang turun menjadi 9,7 persen dibandingkan Maret 2026 sebesar 10,2 persen.
Sementara proporsi pendapatan yang disimpan meningkat menjadi 18,2 persen dibandingkan sebelumnya sebesar 17,6 persen.
Artikel Terkait
Purbaya Ungkap Royalti Minerba Berpotensi Naik, Pengusaha Tambang Tunggu Keputusan Final Pemerintah
Dugaan Fraud Telkom Rp5 Triliun Diselidiki Regulator AS, Apa Dampaknya Bagi Saham TLKM dan Investor
Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Melambat Pada Kuartal II 2026, Bank Mandiri Ungkap Penyebab Utamanya
Negosiasi Dua Kapal Pertamina di Selat Hormuz Berlanjut, Tiga Tanker Lolos Diam-Diam Picu Sorotan Jalur Energi Dunia
Rupiah Tembus Rp17.300 Per Dolar AS, IHSG Turun Tajam Picu Kekhawatiran Pelaku Pasar Domestik
Dolar AS Sentuh Rp17.503, Apa Dampaknya Bagi Rupiah dan Seberapa Besar Risiko Gejolak Selat Hormuz
Transformasi TLKM 30 Dorong Kinerja Telkom 2025, Mengapa Return Pemegang Saham Justru Melonjak
Rupiah Tembus Rp17.529, Purbaya Rapat Mendadak di Kemenkeu Siapkan Strategi Jaga Stabilitas Nilai Tukar
Rupiah Tembus Rp17.500, Mengapa Pemerintah Tetap Yakin APBN Aman di Tengah Tekanan Dolar AS Global
Tarif Royalti Minerba Masih Dikaji, ini Dampaknya Terhadap Investasi Nikel dan Strategi Hilirisasi Nasional ke Depan