Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi 0,20 persen yang membantu menjaga stabilitas harga secara keseluruhan.
Ateng Hartono menjelaskan beberapa komoditas penyumbang deflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, dan telur ayam ras.
“Daging ayam ras memberikan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan 0,09 persen, cabai rawit dan telur ayam ras masing-masing,” kata Ateng.
Stabilitas harga pangan menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok usia produktif.
Kombinasi inflasi terkendali dan konsumsi kuat memperkuat peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid sepanjang 2026.****
Artikel Terkait
Peringatan ExxonMobil: Harga Minyak Dunia Bisa Melonjak Akibat Ketidakseimbangan Pasokan dan Permintaan
Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kebijakan Baru Jaga Ketahanan Pangan Indonesia Saat Krisis Global Meluas
Tiongkok Kembangkan Teknologi Baru Tantang Dominasi AS dalam Persaingan Digital Global Masa Depan
KEK Keuangan Bali Disiapkan Pemerintah, Insentif Fiskal Jadi Kunci Tarik Investor Global ke Indonesia
KEK Bali Fokus Sektor Keuangan, Insentif Fiskal Disiapkan Dongkrak Daya Saing Ekonomi Nasional Indonesia
Rencana KEK Keuangan Bali Menguat, Insentif Fiskal Jadi Faktor Penentu Minat Investor Global Masuk Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Tertinggi Lima Tahun Apa Faktor Utamanya
Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen, Ini Faktor Utama dan Risiko yang Perlu Diwaspadai
Rupiah Tertekan, Ini 7 Strategi Bank Indonesia Yang Direstui Presiden untuk Stabilkan Nilai Tukar Nasional
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen Namun Rupiah Melemah Tajam Picu Kekhawatiran Stabilitas