Pelemahan Rupiah Dipengaruhi Faktor Global dan Sentimen Pasar
Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah lebih dipengaruhi faktor global dan ekspektasi pasar dibandingkan kondisi ekonomi domestik.
Ia menegaskan pelemahan tersebut bukan sinyal memburuknya ekonomi Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan.
“Dibanding negara lain, kita masih kuat, bahkan dibanding Malaysia dan Thailand,” kata Purbaya Yudhi Sadewa.
Data Nilai Tukar Rupiah Terkini dan Perbandingan Regional Ekonomi
Pada penutupan perdagangan Jumat (25/04/2026), rupiah menguat 57 poin atau 0,33 persen ke level Rp17.229 per Dolar AS.
Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah berada di posisi Rp17.286 per Dolar AS pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sebagai latar belakang, tekanan terhadap rupiah beberapa waktu terakhir sejalan dengan penguatan Dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global.****
Artikel Terkait
Realisasi Investasi Hilirisasi 2026 Naik 8,2 Persen, Pemerataan Ekonomi Luar Jawa Semakin Terlihat Signifikan
Sengketa CMNP Vs MNC Asia Holding Berakhir, Hakim Nyatakan Perbuatan Melawan Hukum dalam Transaksi Lama
Hoaks 750 Dapur MBG Seret Nama Uya Kuya, Sayembara Diluncurkan Bantu Polisi Ungkap Pelaku
Klarifikasi BGN Soal 19.000 Sapi Program Makan Bergizi Gratis dan Dampaknya Terhadap Stabilitas Harga Pangan
Pemerintah Bantah Isu Kas Negara Rp120 Triliun, Saldo Anggaran Lebih Capai Rp420 Triliun Tetap Aman
Likuiditas Valas Perbankan Masih Aman, OJK Pastikan Kebutuhan Nasabah Terpenuhi Tanpa Risiko Nilai Tukar
Pemerintah Buka 116 Blok Migas Baru, Strategi Kejar Target Produksi Minyak Nasional 2026 Lebih Agresif
Target Pertumbuhan Ekonomi 5,7 Persen Kuartal II-2026, Pemerintah Siapkan Stimulus Hadapi Tekanan Harga Komoditas
Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 di Tengah Tekanan Global, Seberapa Kuat Rupiah dan Stabilitas Keuangan Nasional
Menkeu Purbaya Tegaskan Tidak Ada Ruang Inefisiensi Pajak dan Bea Cukai dalam Survival Mode Ekonomi Indonesia