“Kami telah menginstruksikan seluruh SPPG di Jawa Timur untuk mengoptimalkan penggunaan telur dalam menu MBG,” ujar Nanik di Jakarta.
Ia menjelaskan kebijakan itu ditujukan untuk meningkatkan penyerapan produksi lokal dan menjaga stabilitas harga di tingkat produsen.
Koordinasi bersama Satgas MBG Kabupaten Magetan juga telah dilakukan untuk percepatan implementasi kebijakan tersebut.
Frekuensi Menu Telur Naik Tiga Kali dalam Sepekan
BGN merencanakan peningkatan frekuensi penyajian menu telur dalam operasional MBG menjadi tiga kali dalam sepekan.
Sebelumnya, telur hanya disajikan dua kali dalam siklus menu mingguan.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500, Mengapa Pemerintah Tetap Yakin APBN Aman di Tengah Tekanan Dolar AS Global
Penambahan satu kali penyajian diproyeksikan meningkatkan permintaan telur dari peternak lokal secara signifikan.
“Program MBG dirancang tidak hanya memenuhi gizi masyarakat, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal,” kata Nanik.
Kebijakan ini dinilai dapat menjadi instrumen intervensi pasar yang langsung menyentuh rantai distribusi peternak.
Di Magetan, pasokan telur untuk MBG selama ini seluruhnya berasal dari peternak lokal.
Stabilitas Harga Jadi Ujian Efektivitas Intervensi Pemerintah
Persoalan harga telur sebelumnya juga beberapa kali menjadi perhatian pemerintah ketika volatilitas pasokan memicu gejolak harga nasional.
Sejumlah media arus utama mencatat pola serupa kerap terjadi saat produksi meningkat tanpa diimbangi penyerapan pasar.
Baca Juga: Transformasi TLKM 30 Dorong Kinerja Telkom 2025, Mengapa Return Pemegang Saham Justru Melonjak