• Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.500 Per Dolar AS, Seberapa Besar Ancaman Kenaikan Harga Bagi Ekonomi Saat Ini

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Senin, 18 Mei 2026 | 12:48 WIB
Nilai tukar rupiah melemah lewati Rp17.500 per Dolar AS di tengah ketegangan global, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional. (Dok. Kreasi Dola AI) (Dok. Kreasi Dola AI)
Nilai tukar rupiah melemah lewati Rp17.500 per Dolar AS di tengah ketegangan global, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional. (Dok. Kreasi Dola AI) (Dok. Kreasi Dola AI)

“Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).

Ia menilai kenaikan harga biasanya tidak terjadi seketika karena korporasi masih menggunakan stok lama sebelum melakukan penyesuaian.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Pernyataan Prabowo Soal Fundamental Kuat Jadi Sorotan Di Tengah Gejolak Dunia

Dalam rentang satu hingga beberapa bulan, tekanan biaya itu umumnya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang.

“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok meningkat, biaya transportasi naik, hingga harga produk kesehatan ikut terdampak,” katanya.

Kondisi ini mengingatkan pada episode pelemahan rupiah sebelumnya ketika lonjakan kurs mendorong tekanan inflasi nasional.

Baca Juga: CBA Soroti Kasus 28 Korporasi Sumatera, Akankah Polri Buka Progres Pengusutan Dugaan Kerusakan Lingkungan

Beban Fiskal Pemerintah Menghadapi Tantangan yang Kian Berat

Tekanan terhadap rupiah juga memberi konsekuensi langsung terhadap anggaran negara yang sensitif terhadap pergerakan kurs.

Rijadh menyebut subsidi energi sebagai salah satu pos paling rentan akibat tingginya ketergantungan terhadap komponen impor.

Selain subsidi, kewajiban pembayaran utang luar negeri juga membengkak dalam denominasi rupiah meskipun nilai pokok dalam Dolar AS tetap.

Baca Juga: Prabowo Minta Publik Tetap Tenang Saat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61 Persen Jadi Sinyal Ketahanan Nasional Hadapi Tekanan Global

“Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, fleksibilitas pemerintah membiayai pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelasnya.

Kondisi fiskal yang ketat sebelumnya juga menjadi sorotan dalam berbagai laporan ekonomi nasional terkait keterbatasan ruang belanja produktif.

Situasi tersebut dapat menekan kemampuan pemerintah menjaga daya beli masyarakat jika pelemahan berlangsung berkepanjangan.

Baca Juga: Kasus PT AKT Memanas, Kejagung Tahan Pemilik PT CBU Usai Dugaan Manipulasi Dokumen Ekspor Batu Bara

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Banny Rachman

Tags

Artikel Terkait

Terkini