ekonomi

Rupiah Tertekan Hingga Rekor Baru, Apa Dasar Keyakinan Pemerintah Bahwa Kondisi Akan Segera Membaik Lagi

Selasa, 2 Juni 2026 | 08:00 WIB
Pergerakan rupiah yang melemah menjadi perhatian investor, sementara pemerintah menilai ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat. (Dok. Kreasi Dola AI)

Pemerintah juga meyakini pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga, dan investasi masih berada dalam jalur yang relatif stabil.

Investor Soroti Rekor Pelemahan Rupiah dalam Beberapa Pekan

Meski pemerintah optimistis, pelemahan rupiah tetap menjadi sorotan karena terjadi dalam waktu relatif singkat.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.812, Ichsanuddin Noorsy Ungkap Sinyal Tekanan Ekonomi Terlihat Pada Sektor Riil

Tekanan terhadap nilai tukar memunculkan pertanyaan mengenai tingkat kepercayaan investor terhadap aset domestik.

Beberapa pekan sebelumnya, rupiah sempat menembus kisaran Rp17.500 hingga mendekati Rp17.800 per Dolar AS.

Purbaya bahkan mengaku kondisi tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi nasional yang menurut pemerintah masih kuat.

Baca Juga: Bahlil Cari Pembuat Lagu MBG Viral, Respons Santainya Justru Memicu Perhatian Publik Lebih Luas Nasional

"Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya," kata Purbaya.

APBN Disebut Tetap Aman Hadapi Gejolak Nilai Tukar

Selain memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan normal, pemerintah juga menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 masih berada dalam koridor aman.

Purbaya menyatakan asumsi nilai tukar dalam penyusunan APBN telah memperhitungkan kemungkinan tekanan rupiah yang lebih tinggi.

Baca Juga: PSMTI Yogyakarta Punya Ketua Baru, Musprov III Soroti Regenerasi Kepemimpinan dan Arah Organisasi Daerah

Pemerintah mengklaim berbagai risiko eksternal sudah dimasukkan dalam skenario fiskal sejak awal penyusunan anggaran.

Latar belakang ini penting karena sepanjang 2026 rupiah menghadapi tekanan akibat ketidakpastian geopolitik, arus modal global, serta perubahan sentimen investor terhadap pasar negara berkembang.****

Halaman:

Tags

Terkini